Minggu, 17 Oktober 2010
Tak Seperti yang Ku Kira
baca = kritik or comment. untuk post-an sebelumnya, baru 2 jam dipost, udah 4 orang yang baca, tapi mereka sama sekali enggak ninggalin kritikan. padahal aku perlu banget!. tolong ya?
Tak Seperti yang Kukira
Aku dan teman-temanku sedang kerja kelompok di rumahku, kami ditugasi membuat kliping tentang global warming dengan bahan-bahan yang berasal dari barang bekas. Aku(Odessa), Rara, Sojya, dan Lilli. Dan bukan kerja kelompok namanya jika tidak ada canda, tawa atau obrolan yang menghiasi kerja kelompok kami, yang mewarnainya hingga sulit untuk kami lupakan, walaupun itu hanya kerja kelompok membuat kliping. Dan tema pembicaaran kami kali ini lagi-lagi cowok, dimulai dari sms yang dikirim oleh Raffi, pacar Rara, yang meskipun hanya mengingatkan untuk makan dan shalat, tapi Raffi menyampaikanya dengan kata-kata yang dirangkai dengan indah, dan dimulailah kami membicarakan soal gaya bahasa pacar-pacar kami dan bentuk perhatian mereka.
“Raffi memang biasa begini, setiap hari selalu begini”. Ujar Rara bangga.
“begitukah? Keren! Raffi memang romantis ya!”. Puji Soyja.
“kalau Gilang sih, biasanya langsung telepon”. Aku Lilli tentang pacarnya, Gilang.
“benarkah? Sama kayak Nico, dia juga suka langsung telepon, itupun kalau enggak sibuk sih, kalau sibuk sih dia suka sms aja, tapi selalu, enggak pernah enggak!”. Kini giliran Soyja yang mengaku tentang perilaku cowoknya.
“bener-bener! Mereka tuh ya! Selalu nyuruh hal-hal yang kita udah tau, ya makan lah, ya shalat lah, mandi lah, belajar lah, padahal kan kita udah tahu!”. Ujar Lilli berapi-api.
“hmm, bener! Hehehe, mereka tuh, udah enggak bosen-bosen, buang pulsa lagi!”. Sanggah Soyja.
“hehehe, bener! Terus kalau enggak dibalas, langsung sms bertubi-tubi masuk, mulai dari nanya ‘kenapa enggak dibales’ sampai ngira yang enggak-enggak”. Ujar Rara menambahkan. aku seolah tidak bisa ikut dalam pembicaaran ini sebagai salah satu pembicara, aku hanya bisa menjadi pendengar. Pacarku, Oliver, dia tidak begitu, hhh, jangankan mengingatkan seperti itu, mengucap sayang pun jarang sekali, jika kusuruh, baru dia mau, itupun dengan nada terpaksa. Tapi, meski Oliver bersikap seperti itu, entah mengapa, inti hatiku berbisik, kalau Oliverlah jodohku. Kenapa ya?.
“heh! Kau diam saja Essa, kenapa?”. Soyja menepuk kakiku, membuat lamunanku tentang Oliver buyar.
“kalau Oliver bagaimana? Aku rasa hanya wajahnya saja yang ‘cool’, tapi hatinya lumer kan kalau deket kamu?”. Goda Lilli sambil menaikturunkan alisnya. Aku mengeleleng.
“tidak, Oliver jarang sms tidak perlu seperti itu”. teman-temanku tidak terlalu kaget mendengarnya, mungkin mereka berpikir itu sangat cocok dengan wajah Oliver yang jutek.
“hmm, aku rasa dia memang bukan orang yang seperti itu, aku yakin dia sayang sekali padamu”. Ujar Lilli menenangkanku. Aku mengangguk.
“dasar si Oliv! Enggak ke siapa-siapa sikapnya begitu, dingin, ehh, ke pacarnya aja begitu, Kamu sabar ya Essa, aku yakin Oliver sayang sama kamu, mungkin aja dia itu malu ngungkapinnya”. Rara menyemangatiku. Aku tersenyum kecil mendengarnya.
“hhh, dulu juga aku pikir begitu, tapi sekarang, sikap dingin Oliver makin menjadi..”.
“hhhm, perasaan kamu aja kali, firasat aku sih, Oliver cowok baik, buktinya aja, dia baru pacaran sama kamu, langgeng lagi, 1 tahun kan?”. Aku mengangguk mendengar pertanyaan Rara. Sojya dan Lilli tersenyum memandangku, aku tahu, mereka menguatkan dan mendoakanku, agar kuat menghadapi sikap dingin Oliver padaku. Dan mereka pun mengganti topik pembicaaran mereka, mungkin tidak enak denganku.
Perasaanku beberapa hari yang lalu tentang betapa dinginya seorang Oliver, pacarku, terhadapku, semakin terbukti. Sudah seharian ini Oliver tidak mengirimiku sms, hhh, rasanya kesal sekali menunggu ponselku ‘menyanyikan’ lagu Be Mine-nya Aditya, lagu itu merupakan nada dering khusus untuk kontak diponselku yang bernama Mine alias Oliver. Selama ini, Oliver yang selalu pertama mengirimiku sms, tapi kali ini, aku mengalah, aku mengirim sms pada Oliver, dan kutunggu balasannya...
Seharian aku menunggu ponselku ‘kena gempa’ bahkan hingga paginya, aku kesal dengan sikap Oliver, apa dia begitu miskin sehingga pulsa saja tidak mampu ia beli?. Apa harga pulsa lebih mahal ketimbang harga untuk sekali ‘minum’ Yarisnya?. Tidak baik memang berburuk sangka, jadi, kutunggu saja Oliver menyambangi kelasku. Aku tunggu. Dan hingga istirahat ke dua, kegiatan menungguku aku hentikan, aku lelah menunggu.
“daripada nungguin Oliver terus, mending kita ke perpustakaan, kita cari materi buat rangkuman redoks aja, mau?”. Ajak Soyja sambil mengelus pungguku, aku tersenyum dan menggangguk, setelah aku mengambil notebookku, kami berjalan santai menuju perpustakaan. Kami sampai ditempat rak-rak penuh dengan buku yang berjejer rapi, tempat itu tidak sepenuhnya sepi, beginilah suasana perpustakaan kami, Library of Gabor High School. Sejenak aku melupakan Oliver, dan mulai ikut bergurau dengan teman-temanku, tapi sesosok yang sudah dipaten dalam otakku muncul, sosok yang membuat perasaanku tidak menentu karena dibuat menunggu sms darinya. Oliver. dia sedang membaca buku di meja nomor 17. Aku menghampirinya, tapi Oliver malam beranjak dari tempat duduknya, ketika ia berdiri, ia sadar akan keberadaanku, ia tersenyum, lalu...ia malah pergi, bukannya menghampiriku. Rasa kesalku makin memuncak. Aku biarkan saja dia.
“lebih baik, kamu tunggu saja dia dimobilnya nanti sepulang sekolah”. Aku mengangguk dengan wajah tertekuk mendengar usul Lilli. Sepulang sekolah, aku langsung menuju tempat parkir siswa, aku melihat Oliver masuk ke dalam mobilnya, Oliver tidak menungguku?. Aku berlari ke tempat mobil Oliver diparkir, tapi sial! Aku tersandung lubang yang dibuat dengan indah secara alami dan membuatku terjatuh dengan sukses sekali, hingga lututku berdarah. Aku memegangi lukaku sambil mengutuki lubang itu.
“kamu kenapa? Ya ampun, sampai berdarah begitu, sini”. Aku menggangkat kepalaku ketika mendengar suara yang sangat kukenal datang, tangannya ikut membersihkan tanah yang menempel disekitar lukaku. Wajahku kembali kutekuk. Oliver membantuku berdiri. Dan memapahku ke dalam mobilnya. Oliver mengambil tisu dan membasahinya dengan air mineral setelah mendudukanku di jok depan mobilnya. Dia membersihakan darah yang menempel dilukaku, dan menutupinya dengan kassa setelah melumurinya dengan antiseptik, dia merekatkan plester disekeliling kassa dengan sangat hati-hati dan aku yang memperhatikannya dengan wajah kusut.
“langsung pulang ya?”. Aku mengangguk. Aku sempat memberinya kesempatan untuk menjelaskan kenapa sikapnya semakin dingin padaku atau untuk sekedar meminta maaf atas sms yang tidak ia balas, tapi setelah 15 menit aku dan dia ada di satu mobil, dia tidak membuka mulutnya untuk memulai pembicaraan. Akhirnya aku kembali mengalah.
“kenapa kemarin enggak balas smsku? Nomor kamu enggak ganti tiba-tibakan? Ponsel kamu juga enggak dijambretkan? Hah?”. Aku memandanginya dengan wajah serius. Bukannya langsung ambil suara, dia malah sibuk menutup batuknya.
“aku ketiduran..”. jawabnya dengan sangat pendek.
“begitukah? Itu bukan jawaban Oliver”.
“lalu? Aku harus jawab apa? Aku memang ketiduran”. Seketika mataku berair.
“hmm, hanya segitukah jawabanmu? Untuk aku yang menunggu balasan darimu semalaman?”. Oliver menghentikan mobilnya tepat didepan rumahku. Dia menunduk.
“kau sangat baik Oliver, terima kasih atas kassa dan antiseptiknya, dan juga untuk tumpangannya, ini sangat berarti!”. Ujarku sambil menghapus airmataku. Oliver turun dari mobilnya dan membantuku turun. Aku menepis tangannya. Aku berjalan pincang tanpa menatapi Oliver. Hingga sampai ke depan pintu, aku masih melihat bayangan Oliver di kaca jendela sedang memandangiku dari depan mobilnya, begitu aku masuk, aku lihat dia sudah pergi. Malamnya, pikiranku sudah membuat statement tentang sikap Oliver hari ini, dia sudah tidak sayang padaku, tapi hatiku menyanggahnya dengan membuat statement lain, Oliver sedang ada masalah. Mana yang harus kupercaya? Entahlah, aku rasa keduanya benar, dan menurutku statement pikiranku lebih kuat dibandingkan hatiku.
“dasar! Masa dia kayak gitu Sa?”. Ujar Rara sambil berkacak pinggang, esoknya aku cerita pada teman-temanku soal sejadian kemarin.
“kalau memang dia ada masalah, seharusnya dia cerita sama kamu, Sa”. Kata Soyja.
“bener! Bener! masalah sih masalah, tapi jangan kamu yang jadi pelampiasannya dong?”. Kata-kata Lilli semakin menguatkan pernyataan Soyja.
“terus? Apa yang harus aku lakuin sekarang? diemin aja? Atau?...”. kata-kataku menggantung.
“iya, diemin aja, dia juga diemin kamu kan, Sa?”. Usul Sojya. Benar!. Aku menggangguk dan tersenyum.
“salah enggak kalau aku enggak perhatiin dia lagi?”. Tanyaku. Sojya dan Rara mengangguk.
“enggak, orang dia juga enggak perhatiin kamu, daripada kamu sakit hati karena dia enggak perhatiin kamu, lebih baik kamu juga enggak perhatiin dia aja, biar kamunya enggak sakit hati, OK?”. Lilli mengacungkan jempolnya sambil tersenyum. Aku membalas senyuman mereka. senyum mereka semakin merekah ketika aku membuka kotak makan siangku, isinya karage balado. Lima menit kemudian, isinya tinggal kertas tisu. Kami memang rakus.
Sepulang sekolah, aku tidak langsung pulang, aku mampir ke toko kain, sebentar lagi Oliver ulang tahun, meski sikapnya menjijikan terhadapku, tapi dia tetap pacarku, aku ingin membuatkan hiasan dinding dari kain flanel, Oliver senang sekali memajang photoku dikamarnya, aku akan buat frame dari flanel yg berisikan photoku dan Oliver waktu kita liburan di Anyer. Sebenarnya, setiap aku mengingat Oliver, mataku langsung ‘mencuci’ dirinya sendiri dengan air mata. Tapi, aku rasa, kado ini akan menjadi kado terakhirku pada Oliver. Oliver mungkin sudah jenuh denganku, kami sudah 1 tahun berpacaran, dan sudah 1 tahun juga semuanya berjalan lancar dan biasa-biasa saja, sikap Oliver yang sabar dan tidak cepat marahlah yang membuat hubungan kami berjalan tanpa pertengkaran. Mungkin batas waktu yang diberikan Tuhan padaku hanya 1 tahun, aku terima, aku rasa, aku bukan yang terbaik untuk Oliver. hari ini, baik aku maupun Oliver ternyata tidak saling menunggu, statement pikiranku makin kuat. Aku pergi ke toko kain sendiri, hari ini pelajaran cukup banyak, itu berarti buku yang kubawa ditasku juga banyak, itu berarti lagi, tasku makin berat, sehingga aku memutuskan langsung pulang setelah mendapatkan kain flanel ungu dan hijau. Dalam perjalan menuju halte bus, aku merasakan sesuatu dikantongku bergerak, tepatnya bergetar, hum, ternyata ponselku, displaynya menunjukan ‘ibu’.
“halo, assalamualaikum, kenapa bu?”.
“Sa, ibu lagi dirumah sakit, jenguk sepupumu, Shakil, kamu bisa kesini? Ibu lupa taruh kunci dibawah keset, hehehe, bisa kan nak?”. Oh, lagi-lagi, penyakit pikun ibu kembali merugikanku.
“iya, Essa kesana bu, Shakil masih dirumah sakit yang kemarin?”.
“iyalah, masa pindah-pindah, emang kontrakan?”. Ha? Ibu kok jawabnya enggak nyambung banget sih!. Aku langsung menutup telepon, untung saja aku belum naik bis, bisa-bisa aku harus naik bis lagi ke rumah sakit dari rumahku. 15 menit setelah aku naik bis, aku diturunkan di depan rumah sakit tempat Shakil dirawat. Tanpa banyak gaya, apalagi nongkrong didepan rumah sakit, aku langsung masuk dan menuju lift berada. Hah?! Siapa yang kulihat itu?, aku berjalan menuju lift dan melewati sebuah ruangan, entah ruangan apa, tapi yang pasti aku menemukan sosok Oliver di dalamnya sedang duduk dan terbatuk-batuk, begitu akan kupanggil, Oliver lebih dulu pergi, masuk ke pintu yang ada diruangan itu. Oliver sakit?. Entahlah, aku menunggunya dikursi yang ada didepan ruangan itu, tapi sialnya, ibuku meneleponku dan tidak mengerti jika anaknya terjebak macet (itu hanya alasanku saja), hebatnya dia tahu aku sudah ada dirumah sakit, ibu menyuruhku cepat masuk ke kamar Shakil, dia bilang ada nasi padang yang masih hangat untukku. Terpaksa aku menuruti kemauan ibuku, dibalik semua itu, perutku memang sudah membunyikan alarmnya, tanda asam lambungku sudah mencapai batas maksimal. Setelah menghabiskan satu piring nasi padang beserta rendangnya, aku bergegas ke lantai dasar, dalam hati aku terus berharap Oliver masih disana, dan mau menceritakan kenapa dia bisa ada dirumah sakit tanpa memberitahuku sebelumnya. Hari ini, dewi fortune absen mampir ke tempatku, aku menunggu 1 jam didepan ruangan itu hingga ruangan itu ditutup petugas, tapi Oliver tidak muncul, apa Oliver ketiduran dan terkunci didalam?, tidak mungkin, seseorang pasti menyadarinya. Kini muncul perntanyaan besar dikepala maupun hatiku, ada apa dengan Oliver? dia sakit?, sepertinya ya, Oliver sakit, tapi? Kenapa dia tidak cerita?, aku cukup dekat dengan temannya, Devans,aku langsung meng-smsnya setelah aku tidak mendapat balasan apapun atas sms yang kukirimkan pada Oliver.
Hemm, Oliver emang agak pucat tadi, kenapa emang Sa? Enggak tanya langsung sama dia?. begitulah jawaban Devans atas smsku. Kasihan Devans, aku tanya dia jawab, dia tanya aku tak jawab. Aku tidak menjawab karena aku takut pembicaraan akan semakin panjang sementara pulsaku sudah semakin pendek alias kritis.
Esoknya, begitu aku sampai disekolah, aku langsung pergi ke kelas Oliver, tapi Oliver tidak sekolah, ada surat dari Rumah sakit tempat Shakil dirawat, dokter bilang dia butuh istirahat 2 hari. Tidak dituliskan disana penyakit apa yang diderita Oliver. Perasaan tidak enak makin mencekikku ketika Oliver sama sekali tidak pernah menjawab sms dan teleponku sejak kemarin malam. Ada apa dengan Oliver? sebegitu dinginkah dia sampai-sampai semua teman-temannya tidak mendapat kabar satu hurufpun darinya soal kesehatannya?. Sepulang sekolah, aku sebagai pacarnya dan salah satu orang yang masih peduli pada ‘kedinginannya’ mendatangi rumahnya, tentunya bersama Devans dan Aldi, teman-temanya, tapi kami disambut dengan rumah yang terkunci rapat, tetangga Oliver bilang, ada sekitar 2 sampai 3 mobil meninggalkan rumah ini kemarin sore, dan salah satu dari mobil-mobil itu ada mobil Oliver. Pergi kemanakah Oliver?. Entahlah, Oliver bersikap terlalu dingin, dia bersikap seolah aku tidak akan memperdulikannya, seolah aku tidak menghawatirkannya, seolah aku bukan siapa-siapanya, dasar aneh!. Baiklah, jika itu yang kau mau, aku akan benar-benar tidak merisaukanmu lagi,soal bagaimana kesehatanmu dan apapun yang menyangkut dengan dirimu, mulai sekarang itu urusanmu sendiri, aku akan benar-benar melupakanmu, karena sikapmu yang membuat seolah kau ingin meninggalkanku dan melupakan semuanya. Jelas sekali, jika aku hanya debu yang mengusik hidungnya untuk bersin. Sangat tidak berarti, bahkan, cenderung merugikan.
Pikiran dan hatiku memang tidak bisa diajak kompromi dengan niatku yang memutuskan untuk tidak mempedulikan sosok Oliver, sejak disambut dengan indah oleh pagar terkuncinya rumah Oliver. Pikiran dan hatiku tidak henti-hentinya berdiskusi dan memberikan sugesti agar aku melenyapkan egoku lalu melepon Oliver. Aku rasa itu percuma. Tidak hanya mereka yang membuatku gila karena Oliver. Ibu dan sepupuku, Ryan, juga selalu menanyai tentangnya dengan tampang polos, seolah tak tahu kalau sosok Oliver sedang dalam proses pen-delete-an dalam pikiranku. Aku tidak pernah mengira, aku dan Oliver akan menemui akhir yang penuh tanda tanya begini setelah 1 tahun memulai dan menjalani. Mungkin ini sudah masuk aturan hidupku dan Oliver.
“nak, ikut ibu ya?”. Aku yang sedang mencoba cardigan baru dikagetkan ibu. Kebetulan sekali aku sudah mandi dan berpakaian rapi, ditambah ibu yang memancingku dengan agar-agar strawberry ditanganya.
“disana ada Om Rudi loh?!, dia bilang pengen ketemu kamu”. Hmmm, tawaran yang menggoda untuk meninggalkan rumah di-weekend ini. alhasil, aku ikut ibu dan membantunya membawakan 2 tas berat berisikan makanan. Ternyata kita pergi ke rumah sakit lagi, menjenguk Shakil, saudaraku itu dirawat karena patah tulang serius dibagian betis, suruh siapa punya hobi memanjat pohon kelapa. Aku sampai dirumah sakit dengan cepat. Aku melewati ruangan dimana aku melihat sekelebat sosok Oliver yang sedang terbatuk-batuk lalu menghilang ketika menuju lift. Dan sepertinya hal itu terjadi lagi. Aku melihat sosok Oliver lagi diruangan itu. Tanpa dikomandoi, aku langsung melepas tas yang kupegang dan menghampiri Oliver.
“Oliver..”. Oliver yang memakai jeket tebal memalingkan wajahnya kepadaku. Bak melihat hantu disiang bolong, ekspresi wajahnya menandakan dia begitu terkejut melihat ku datang dengan tampang kesal.
“dinda..”. ujarnya, dia memegang tanganku dan mengajakku duduk. Aku duduk disampingnya. Tangan Oliver belum dilepasnya dari tanganku meski aku sudah mencoba untuk melepas genggamannya yang dingin.
“aku bingung, harus mulai dari mana..”. Aku Oliver. Matanya masih belum bisa menatap mataku layaknya seperti biasa kita bicara berdua. Seseorang berbaju putih keluar dari pintu yang ada didepan ku, dia tersenyum dan melambaikan tangannya pada Oliver. Oliver beranjak memasuki pintu itu dengan sebelumnya mengelus rambutku. Aku tunggu, aku bersumpah, jika Oliver tidak keluar, menghilang tiba-tiba seperti waktu aku menunggunya dulu disini, atau tidak menghiraukanku seperti yang terjadi diperpustakaan waktu itu, aku tidak pernah lagi mau menunggu untuknya, tapi sepertinya itu tidak akan terjadi, Oliver keluar dari ruangan itu 30 menit setelahnya. Dan tanganya langsung menarikku mengikutinya, aku berasa kehilangan setengah dari volume otak dan darahku, tubuhku begitu ringannya mengikuti tarikan tangan Oliver. dia menarikku hingga ke taman rumah sakit. Kami duduk dibangku hijau yang ada disana.
“dinda..”. ujarnya menggantung, sepertinya dia mulai menatapku, tapi kasihan sekali dia, aku tidak menatapnya.
“apa? Sejak tadi yang bisa kau ucapkan hanya dinda..dinda..saja! baru bisa ngomong dinda? Harusnya kamu belajar kata maaf dulu sebelum ketemu sama aku!”. Aku bosan mendengar perkataan Oliver yang menggantung terus menerus. Oliver terlihat menarik nafasnya.
“maaf..maaf Dinda”. Dia menundukan wajahnya, dari gema suaranya, aku bisa tahu kalau dia sedang sedih.
“aku sudah menunggu untukmu berhari-hari...”. air mataku mulai keluar. Oliver menyekanya dan menatapku lebih dalam.
“berhari-hari?”. Tanyanya polos.
“kau tidak tahu? Aku hampir saja menghancurkan pagar rumahmu karena terkunci saat aku kesana”.
“dinda sampai ke rumahku?”. Tanyanya dengan wajah tak percaya.
“tentu...aku sangat mengkhawatirkanmu..tapi sepertinya kau tidak tahu..kau seenaknya saja menghilang dan mendiamkanku selama itu”. Aku menghela nafas, air mataku terus mengalir. Kekesalanku sudah terlalu menumpuk dan mulai mengeras dihatiku.
“katakan padaku, aku harus mulai dari mana setelah mengucapkan kata maaf...”. Pertanyaan yang sangat bodoh telah meluncur dari mulut Oliver.
“dari mana? Apa kau bodoh? Dari awal! Kau tahu?!”.
“dari awal?”. Hilang sudah kesabaranku. Kini waktunya mengeluarkan semua cerita yang kusimpan dalam hati, semua keluhan yang tak bisa kusampaikan pada Oliver, yang menumpuk didasar hati, yang menghasilkan sebuah tanda tanya besar dan keperihan. Sudah cukup aku bermain manis dihadapannya, aku tidak mau lagi mengalah, mengalah untuk mengerti sikap dingin Oliver yang menurutku sudah masuk kedalam stadium lanjut itu. aku sudah tidak peduli, akan bagaimana jadinya lagi hubunganku dengannya setelah menceritakan hal ini. Aku menghela nafas, itu berarti. Aku harus merelakan energiku hari ini dihabiskan untuk berbicara panjang lebar dihadapan Oliver.
“ya dari awal!, dari awal kita pacaran dengan sikap dinginmu yang membuat semuanya hambar!, Oliver?, aku tidak pernah menuntut kau untuk menjadi romantis padaku, aku juga tidak pernah menuntutmu menjemputku kapanpun, mengingat hari ulangtahunku, menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat, membuatkanku pesta kejutan, memberikan ku kado istimewa, mengucapkan selamat malam, menyuruhku makan, atau memberi perhatian lebih padaku, dan...”. Hah, nafasku beradu panjang dengan kekesalan yang menumpuk didadaku.
“mengucap sayang padaku...aku sangat mengerti Oliver, aku sangat mengerti sikapmu itu, aku menganggapnya sebagai hal biasa, aku menganggap semua yang tak kau lakukan itu, sebagai, efek samping penyakit lupamu, dan aku maklumi itu, aku selalu yakin, yakin dalam hati, kau mencintaiku, meski kau tak melakukan semua yang orang lakukan pada pacarnya, meski kau tidak melakukan apapun yang beratikan kau mencintaiku, tidak pernah, sekalipun...”. kini, kekesalan itu menguap ke otaku, dan kemudian, kekesalan itu jatuh, dari mata, dalam bentuk air mata, dipipiku. Oliver hanya terdiam, meski awalnya tercengang, dan kini jari-jarinya ada dipipiku, dia mengusap airmataku. Dan aku membiarkannya.
“kenapa dinda tidak bilang sejak awal?”. Hhh, Oliver adalah salah satu anak pintar disekolahku, 2 bulan yang lalu, Oliver menjuarai olimpiade fisika, sebelumnya, Oliver menjuarai web design competition dan hasilnya kini dipakai sebagai website resmi MTV Thailand, di awal semester dia terbang ke Singapura untuk mengikuti lomba desain case ponsel. Tapi dibalik semua kepintaran yang ia punya, ia sangat bodoh dalam urusan cinta, dia sepertinya tidak tahu cara bagaimana memperlakukan orang yang ia sayang. Logika Oliver jongkok.
“bilang? Sejak awal? Oliver? aku dengar, Devans dan Aldi, sahabatmu, juga sama denganmu kan?, mereka juga punya pacar kan? Apa kau tidak pernah melihat perlakukan mereka pada pacar-pacarnya? Bedakan dengan cara mereka memperlakukanmu? Hah?!”.
“Oliver...dengar? aku ingin, ingin sekali kau memperlakukanku lebih dari kau memperlakukan temanmu, lebih dari kau memperlakukan orang lain, lebih lembut, dan lebih...”. aku tidak tahu lagi bagaimana caranya menjelaskan apa yang kuinginkan dan apa yang pantas kudapatkan dari Oliver, aku rasa dia masih tidak mengerti.
“semakin hari, aku semakin ragu, akan perasaanmu padaku, yang dulu, kau bilang itu cinta, sekarang, aku tidak yakin, kau masih sebut itu cinta”. Oliver seperti tersentak. Sepertinya, kini bagianku mengusap air matanya, tapi tentu saja itu tidak akan kulakukan.
“dinda...jadi, selama ini kau menganggapku hanya main-main saja denganmu ?”. Oliver menatapku, dengan mimik serius.
“ya, kau seperti mempermainkanku, kau hanya membuang waktuku saja”. Oliver menggenggam tanganku.
“seharusnya, dinda tahu, kalau semua itu, bukan sifatku, lagipula, aku rasa, cukup bilang sayang sekali saja kan?, kalau berkali-kali, seperti tidak betulan”. Tidak betulan?!. Apa maksudnya sih?.
“sebenarnya, aku tahu, tahu sekali sifat teman-temanku pada pacar mereka, aku juga mau melakukan hal sama pada dinda, tapi, aku takut dibilang gombal, takut dinda tak percaya”. Aku merasakan kejujuran disetiap kata-kata Oliver.
“kenapa harus tak percaya?, aku menerima kau, dulu, sebagai pacarku, karena aku percaya, aku percaya, kalau kau benar-benar sayang padaku, tapi sekarang, sudah hilang, sifatmu yang menghilangkan segalanya”.
“hah?! Maksud dinda?”.
“yah, semuanya, mana mungkin ada cowok yang dingin ke ceweknya sendiri, yang katanya dia sayang banget sama ceweknya itu, mana mungkin kan?”. Oliver mengenggam tanganku, aku merasakan ada yang membasahi tanganku, dan itu ternyata air mata Oliver, Oliver menangis.
“Oliver?”.
“Ketahuilah dinda, aku sangat sayang padamu, sifatku, memang sudah begitu sejak awal, dan belakangan ini makin parah, karena, sesuatu”.
“sesuatu?”.
“yah, sesuatu itupulalah yang menyebabkan aku tidak menghubungimu lagi beberapa waktu kebelakang”.
“apa sesuatu itu? ceritakanlah, jika kau masih menganggapku sebagai pacarmu”.
“ibu dan ayahku, dinda...”. airmata Oliver semakin bertambah volumenya.
“mereka akan bercerai, dan tidak ada yang mau memegang hak asuhku”. Ucapnya lagi, apa?!.
“Oliv..kenapa tidak cerita sejak awal?”. Oliver semakin sesenggukan.
“aku, sebenarnya mau menceritakan ini semua, tapi setiap aku mengingat, mengingat pertengkaran mereka, sikap mereka padaku, dan semua hal yang ingin ku ceritakan, pada dinda, aku semakin sakit dinda, mereka tega sekali padaku”.
“sejak kapan?”.
“sejak aku kecil, setiap hari, dimana dirumah ibu dan ayahku ada, setiap hari itulah mereka selalu bertengkar, setiap haripulalah aku memikirkan hal itu disekolah”. Pantas Oliver pendiam sekali dikelasnya. Ini kah yang menyebabkan Oliver tidak tahu cara memperlakukan orang yang ia sayang?, karena ia tidak pernah disayangi?.
“jujur, dinda, aku tidak begitu menyayangimu, tapi, Devans dan hatiku bilang, kau orang yang sangat penyayang, itu terlihat jelas sekali, saat kau merawat kelinci-kelinci dibelakang sekolah yang sakit, tapi entah mengapa aku tidak begitu merasakan itu saat bersamamu, aku bahkan pernah berpikir, mungkin aku harus menjadi kelinci dulu baru kau sayang padaku”.
“sayang?, hhh, sejak awal juga aku tidak begitu menyayangimu, sifat dinginmu yang membatasi rasa itu, aku takut kau hanya mempermainkanku saja, maka, aku tahan agar rasa itu tidak begitu muncul, tapi tak bisa Oliver...”.
“aku juga, rasa itu sekarang menghinggapi seluruh hatiku, dan itu jadi hambar rasanya karena dinda tidak mau menunjukan perasaan dinda padaku”.
“maksud kamu?”.
“dinda, dulu aku tidak begitu menyayangi dinda, aku menjadi pacar dinda hanya karna aku ingin tahu bagaimana rasanya disayangi, bagaimana rasanya dicintai, tapi dinda tidak pernah memberikan itu semua padaku, disaat aku memutuskan tidak ingin lagi bersama dinda, rasa itu datang, dan tidak berbalas sama sekali, aku juga bingung bagaimana mengungkapkannya pada dinda, sekarang, rasa itu makin memenuhi hatiku dinda, dibeberapa waktu belakangan ini, aku makin merasakannya, tapi rasa itu datang disaat hatiku sakit melihat perceraian orangtuaku yang sudah didepan mata...”. air mata Oliver makin berlinang, kini gantian, aku yang mengusapnya. seharusnya aku ada disaat itu. kasihan Oliver.
“dinda, mau kan, dinda membalas rasa itu..”. ucapnya sambil meletakan tanganku didadanya.
“aku janji dinda, aku akan belajar cara memperlakukanmu, dengan lembut, layaknya seorang pengeran memperlakukan putrinya”. Wajahnya terlihat serius meski air matanya tidak kunjung surut.
“benarkah? Kau janji Oliver? dan juga..kau janji akan menceritakan apapun kepadaku?”. Tanyaku, akupun serius sekali saat ini. Oliver mengangguk mendengar pertanyaanku, dia tersenyum kecil, sangat manis.
“baiklah, aku harap kau bisa berubah”. Aku tersenyum kecil padanya. Oliver membalas senyumanku.
“tentu, dinda bantu aku ya?”. Aku mengangguk.
“terimakasih dinda”. Ucapnya sambil tersenyum, dan, Oliver memelukku, dia agak canggung saat meraih kepalaku, dan meletakannya dibahunya. Terlihat sekali ke-canggung-an Oliver saat dia mengelus rambutku, dia mengelusnya dengan perlahan, gerakan tanganya terasa ragu. Aku tertawa kecil. Aku mengangkat kepalaku, tidak enak dilihat jika kita terus-terusan seperti ini.
“lalu, kenapa kamu ada disini?”. Tanyaku, Oliver lagi-lagi terbatuk-batuk.
“kamu sakit apa?”. Tanyaku lagi. Oliver mengeleleng.
“aku hanya demam, kebetulan dokter yang tadi memeriksaku itu Omku, dialah yang akan memegang hak asuhku”.
“ohh, hanya demam? Benarkah?”.
“ehmm, sebenarnya, asam lambungku naik, tapi, sekarang sudah agak mendingan, dinda jangan terlalu khawatir ya?”. Jawabnya sambil mengelus pipiku. Aku tersenyum. Setelahnya, Oliver malah memegangi perutnya, raut wajahnya sedikit mencerminkan kesakitan.
“kenapa?”.
“aku...lapar dinda, makan yuk?”. Aku tertawa.
“ayo!, bubur ayam ya?, maag kamu kan belum sembuh betul, Ok?, aku tahu kok tempat makan bubur ayam yang enak, dijamin kamu bakal ketagihan”. Tawarku sambil mengajaknya berdiri, aku menggenggam tangannya, dan wajah Oliver mulai memerah. Aku tertawa kecil melihatnya.
“ketagihan? Jangan-jangan bubur ayamnya pakai bubuk ekstasi lagi dinda?”. Tanyanya konyol.
“masa? Emang kamu yang buat ya? Ohhh”. Oliver tertawa sambil mengelus kepalaku. Kami berjalan menuju tempat parkir sambil bersenda gurau, dari kejauhan, aku melihat ibuku tersenyum memandangiku. Baguslah dia tidak marah, karena aku tinggalkan tas plastiknya ditengah jalan rumah sakit. Aku juga melihat Oliver tersenyum, pada seseorang, dia dokter yang tadi, Omnya Oliver, senyum Oliver begitu lepas sehingga gigi putih Oliver terlihat berjejer rapi digusinya.
“dinda, aku menyayangimu, jangan pernah lupa untuk mengingatkan aku mengatakannya setiap hari padamu, agar aku terbiasa”. Ucapnya sambil mengelus pipiku sesampainya kami didalam mobil Oliver. aku mengangguk.
“tentu, aku juga, sayang padamu, dan aku rasa, aku tidak akan lupa untuk mengucapkanya setiap hari padamu”. Oliver tertawa. Sepanjang jalan kami saling bercerita, tentang kebodohan masing-masing di satu tahun kebelakang, aku merasakan kata-kata, gema suara dan tawa Oliver yang berbeda dari yang sebelumnya, lebih lepas. Sepertinya Oliver sudah ‘sembuh’ dari penyakit dinginnya.
“dinda, ternyata disanyangi itu, indah ya rasanya?”. Aku tersenyum, sembari berdoa dalam hati, agar rasa ini, tidak akan pergi, apalagi hilang, selamanya. Amin.
Pelajaran Berharga
Minggu, 16 Mei 2010
Pelangi Sesudah Hujan

Aku menyukai hujan..
Ibuku kadang mengeluh karena besarnya hujan..dia mengeluh karena sandalnya selalu basah.. dan tapalnya terkena lumpur saat melintasi pasar..
Ayahku juga..lapangan golf akan becek, dan ia tidak bisa bermain karenanya..
Kakakku juga iya, dia bilang, mobilnya akan kotor jika ia menjemput istrinya ditempat les...
Tapi aku suka, dan beruntungnya aku, Falih, pacarku, juga menyukainya.
kami selalu memandangi butiran air yang jatuh dari langit itu sambil bercanda..
menyanyi atau bermain piano, atau membuat roti bakar.
Aku selalu tersenyum jika hujan datang, hujan memang dingin, tapi itu hebatnya..
tapi, aku tak habis pikir, aku sudah menyukai hujan sejak umur 6 tahun, berarti sudah 10 tahun Aku suka hujan, aku selalu punya kenangan indah saat hujan, apalagi saat bertemunya hatiku dengan hati Falih, membuat hujan semakin spesial, dan kini..hujan memberiku kenangan pahit.
Sekarang hujan deras, tapi aku dan Falih tidak bersama menikmati keindahannya. Sekarang, aku seakan mengikuti hujan, mataku, mengeluarkan air, bercucuran, ya! singkat kata, aku mengangis, aku menangis, sejak 2 jam yang lalu, sejak aku mendengar ibuku menjerit, dan ketika aku melihat ibuku melempar vas bunga ke arah ayahku, dan mengenainya, kepala ayah berdarah, dan itu semua lengkap ketika ibu langsung berlari pergi, ke luar, dan ayah mengejarnya, hingga kini mereka belum kembali. ini sudah ke-2 kalinya.
Di lantai ruang tamu, aku rasa, darah ayah masih berbekas, begitu pula pecahan vas bunga yang dilemparkan ibu, aku memang anak bungsu, semua kasih sayang, dari ayahku, ibuku, kakakku, nenekku, kakekku, pamanku, tanteku, sepupuku bahkan kakak iparku, seolah hanya untukku, aku selalu menerima apa yang aku mau, aku selalu melihat ibu dan ayah baik-baik saja, tapi kini, sekarang aku tahu, semua itu hanya topeng, untuk, melindungi hati dan perasaan mereka, yang mungkin sudah tidak saling bersama, searah.
Aku sudah dewasa, beberapa minggu lagi, usiaku tepat 17 tahun, dan aku mengerti apa yang terjadi, kemarin malam, ayahku pulang dengan kondisi mabuk dengan pakaian yang acak-acakan, dia melantur tentang nama, nama seorang wanita, "Rani..". ucapnya sambil terhuyung, kontan, ibu marah, sudah jelas sudah semua dan telepon yang masuk ke rumah kami dan ke ponsel ayah, ternyata ayah sudah menikah lagi, tanpa sepengetahuan kami, dan ternyata omongan tetangga terdengar makin jelas, tentang sosok ayah yang berjalan dengan wanita muda saat malam, dan perginya uang dari rekening ayah ke rekening yang ibu sendiri tidak tahu itu rekening siapa. Awalnya itu semua hanya sebuah siluet, ayah adalah orang yang amat hangat, amat bersahaja, dan mungkin itu semua hancur ketika setan itu datang dan menghancurkan, tidak hanya, hidup ayah, tapi hidup kami sekeluarga.
Hmmm, mungkin karena itu juga, teman-temanku, sebagian dari mereka, menjauhiku, dan karena itu juga sekarang tangisanku makin kuat, makin lirih. Dikala hujan aku sendiri dan menangis.
Tapi..
Ponselku berbunyi, ada telepon masuk, dan itu dari 'payungku', Falih.
"Fit, kamu lagi dimana?". Nada bicara Falih agak panik.sambil sesenggukan aku menjawab.
"dikamar".
"sendiri?".
"e'eh". dari seberang, terdengar suara helaan nafas.
"aku kesana, sekarang". Aku tidak bisa mencegah, pertama, karena aku tak sempat, kedua, karena, sejujurnya aku membutuhkannya.
beberapa menit kemudian, Falih datang, aku melihat mobilnya masuk dengan cepat, dan seketika, dia telah sampai dikamarku, dia langsung memeluk tubuhku dari belakang, aku mendengar gemeretak gigi Falih, badannya gemetar, kemejanya basah, begitu juga rambut cepak Falih, basah kuyup, masih ada air yang mengalir diwajanya, dia memelukku erat sekali. Tangisanku makin keras, ingin sekali aku mengeluarkan semuanya, tapi Falih belum memberikanku kesempatan berbicara. Tangannya mengelus rambutku, dan matanya kin beradu dengan mataku, saling berpandangan.
"lupain semuanya, jangan nangis lagi...". ujarnya lirih.
"hati aku sakit, Lih..".
"lupain, tolong, masih ada aku, masih ada kakakmu, masih ada keluargamu yang lain..".
"mereka penting bagiku Lih..". falih menganggukan kepalanya, dia tersenyum kecil memandangiku.
"aku tahu, dan mulai sekarang, jika mereka tidak bisa lagi untukmu, aku yang akan menganggantikan mereka!". tangisanku agak mereka mendengar ucapan Falih. aku menyenderkan kepalaku di-dadanya, hidungku mengenai lehernya, wangi tubuh Falih masih jelas tercium meski dia sudah basah kuyup. aku masih menangis, meski tak sekeras tadi.
"tolong jangan menangis lagi, akan aku berikan apapun yang bisa kuberikan padamu, tapi jangan menangis lagi, ya?, sayang?". Falih mengecup keningku.
"aku mencintaimu". detik itu juga, perasaanku menjadi lebih baik, air mataku surut, hatiku lega, dan hujanpun berganti dengan indahnya pelangi.
Tapi..badanku makin nyaman menyender di dada Farid. meski badanya basah kuyup, tapi hatiku hangat sekali berada didekatnya. aku juga mencintaimu Falih.
koreksi ya?! =D
Minggu, 09 Mei 2010
All You Need is Love~(2)

“ada tumor di otaknya, dan sepertinya sudah menjadi kanker, tapi, kami masih menunggu hasil pemeriksaan”. 2 hari kemudian, hasil pemeriksaan keluar, dan hasilnya?, Abi menderita kanker otak, dia tidak bilang stadium berapa, karena aku juga tidak mau dengar, sudah cukup hancur, aku mendengar Abi kena penyakit separah itu. sudah 2 minggu Abi tidur di ruang ICU, dan selama itulah tidak ada tanda-tanda kedatangan orang tua Abi, padahal semua teman-teman, guru-guru dan tentunya keluarga dan semua mantan pacar Abi sudah menjenguk, tapi, mereka, yang seharusnya jadi orang pertama yang melihat tubuh Abi yang dililiti banyak selang di ruang ICU, malah menjadi orang terakhir, orang yang sangat terlambat, datang menjenguk Abi. Di hari ke-24 Abi dirawat, mereka datang menjenguk, bersama Eka yang langsung menangis begitu melihat Abi. Eka terlihat begitu merasakan apa yang Abi rasakan, terlihat dari tangisnya, lirih.
“om, tante, kenapa baru datang? Abi sudah hampir 1 bulan disini!!”. Aku tidak bisa menahan emosiku, mereka terlihat seperti menjenguk anak tetangga yang sekarat, ekspresi yang datar.
“Tante dan Om, baru pulang dari Singapura, Eka baru selesai di terapi, jadi baru bisa kemari, Sa..”. meski alasan ini masuk akal, tapi tetap saja, hal lain bisa mereka lakukan jika mereka ingin menjenguk Abi, jika mereka sadar..
“seharusnya om dan tante datang lebih awal...”. aku pergi meninggalkan ICU, aku menyesalkan semua orang yang hanya bisa menelepon orang tua Abi, padahal Abi sangat membutuhkan mereka, aku benar-benar merasakan apa yang Abi rasakan, selama Abi sakit, entah mengapa nafsu makanku menurun, aku malas melakukan apapun. Saat Abi dirawat, Rifal, sepupu kami, juga sakit, dia patah tulang saat berlatih basket, aku sempat melihatnya, karena aku juga lumayan dekat dengan Rifal, aku dan Abi rutin berlatih basket dengan Rifal di taman setiap minggu pagi, jadi aku pergi menjenguknya, kebetulan Rifal dirawat di rumah sakit yang sama. Tapi, seharusnya aku tidak menjenguk Rifal, karena aku hanya iri dibuatnya, aku melihat Rifal sedang ditemani Ibunya, kakinya terus-menerus dielus secara perlahan oleh ayahnya, dan setiap Rifal menginginkan sesuatu, ibu dan ayahnya langsung menyuruh orang suruhan mereka untuk menyediakan apa yang Rifal minta. untung Abi tidak ikut menjenguk, kalau tidak Abi pasti sudah mengamuk karena iri setengah mati. Ketika aku kembali ke kamar Abi, orang tua Abi sudah pergi, opa bilang Eka masih harus banyak istirahat, tapi bagiku, itu hanya alasan orang tua ABI untuk menghindari Abi, aku tidak mengerti, kenapa Abi diperlakukan seperti itu, aku juga makin tidak mengerti kata-kata “semua bayi lahir dalam keadaan suci, putih bersih, tanpa dosa”, jika ungkapan itu benar, tidak seharusnya kami bernasib seperti ini, aku meragukan jika kami yang salah, mereka yang salah, tapi mengapa mereka memperlakukan kami seperti ini? Jika anak yang lain bisa mendapatkan kasih sayang dari orang tua mereka, kenapa kami tidak?, dunia ini memang sangat tidak adil bagi kami. “tiada yang sempurna didunia ini” sedikit banyak aku telah mengerti kata-kata itu, manusia memang tidak ada yang sempurna, jika seseorang punya A, dia tidak akan punya B, jika seseorang punya B, dia tidak akan punya A, dan yang tidak dipunya, namanya kelemahan. Kami tidak punya A, tapi kami juga tidak punya B, meski aku punya keluarga yang cukup besar, tiada satupun yang memperlakukan aku dan Abi sebagai anak mereka, kami tidak punya keduanya, dan ini sangat tidak adil. Malamnya, aku memutuskan untuk tidak tidur, aku ingin memani Abi, aku duduk di depan pintu kamarnya, tapi sial, lama-kelamaan aku tertidur, dan terbangun, aku merasa Abi memanggilku, dan benar saja, ketika aku berdiri, aku lihat dokter memasuki kamar Abi.
“Sa, Abi sudah siuman, masuklah, dia memanggilmu..”. Apa? Abi siuman?, tanpa banyak berpikir, aku masuk ke dalam, dan mendapati Abi dalam keadaan terduduk, Abi sudah bisa duduk?, sudah berapa lama aku tertidur?.
“Sa..”. aku memeluk Abi, suaranya masih lemah, tapi aku percaya ini awal kesembuhan Abi.
“Bi, elo..apa yang lo rasain? Mana yang sakit Bi?”. Bukanya menjawab, Abi malah tersenyum mendengarnya.
“enggak boleh ada yang nanyain kondisi gue, karena jawabannya udah jelas, gue baik Sa”. Nafasku kembali lega, Abi akan sembuh, pikirku.
“BI, kemaren, bokap ama..”.
“gue tahu, mereka kemari?”. Abi tahu?. Gue menggangguk.
“gue telepon mereka sekarang ya Bi?”. Entah kenapa Abi tiba-tiba memelukku.
“Bi?”.
“Sa, bilang mereka ya, gue sayang, dibalik perlakuan mereka sama gue, gue sayang sama mereka, terutama, Eka..hhh..hh”. nafas Abi tiba-tiba tak karuan, Abi memengangi dadanya.
“Sa..gue..ra..sa..hhh.. elo ta..hu apa yang..ha..hhrus..elo lakuin..bu..at..gue..hhh”. kata-kata ABI tersendat, bercampur dengan susahnya Abi bernafas. Dokter langsung mengangi Abi, aku diusir dari kamar Abi. Ketika dokter keluar, dia menampakan wajah putus asa yang aku benci, ingin rasanya aku menampar wajahnya hingga kacamata yang ia pakai pecah.
“kami sudah berusaha, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain”. Tolong jangan bermain tebak kata atau tebak kalimat. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang dokter ketakan, tapi semuanya clear ketika aku melihat oma dan opa menangis, Reno memelukku dan pecahnya tangis semua keluargaku diruang tunggu khusus pasien ICU.
“Sa, kamu sabar ya”. Yang aku tahu, sejak itu aku tidak pernah berhenti menangis, bahkan ketika aku melihat wajah Abi yang bersih untuk terakhir kalinya, ketika Abi dimandikan, dikafani, disolatkan, dan dikuburkan, aku serasa kehilangan setengah jiwaku, Abi memang orang yang sangat berarti untukku, bahkan lebih dari sekedar pacar, Abi sahabatku sekaligus sepupuku yang paling sering, bahkan selalu menemaniku, dan kini, satu-satunya orang yang mencintaiku, pergi, selama-lamanya. aku melakukan keinginan ABi yang terkhir, aku menelepon semua teman-teman Abi dan menyampaikan permintaan maaf Abi. Keesokan harinya, Eka, saudara kembar Abi, meninggal dunia, ketika aku datang ke acara pemakamannya, wajah orang tua Abi basah karena air mata, dia meminta maaf padaku karena tidak bisa melayat Abi, aku hanya mengangguk kesal, semuanya sudah terlanjur, Abi sudah pergi, dan sekarang aku sedikit lega karena disana Abi ada teman, aku juga tidak mengucapkan sepatah kata maafpun dari Abi, karena Abi tidak pernah salah, mereka yang salah.
Lagi-lagi, orang yang kuharapkan cintanya, pergi untuk selama-lamanya. Abi sedikit banyak sudah memberikan cintanya padaku, seakan takdir tak rela melihat ada yang mencintaiku, dia mengambil Abi, dan Abi takkan bisa diambil kembali, olehku, kecuali, aku yang diambil takdir ke tempat Abi.
All You Need is Love~ (1)
All You Need Is Love~
Semua yang kau perlu, adalah Cinta. Benarkah? Jika kau lapar? Kau perlu cinta?, jika kau haus, kau perlu cinta?, apa bukankah makanan atau minuman?, awalnya aku berpikir, ya!, untuk apa sesuatu yang tak berwujud alias gaib bernama Cinta itu ada, cinta tidak bisa mengubah apapun, kecuali hati yang merekah, cinta ubah menjadi layu, hanya itu yang ku tahu, soal cinta, soal bagaimana cinta menghancurkan semua kehidupanku. Aku Ressa, bukan Ressa Herlambang yang penyanyi itu, tapi Ressa Akbar Naffal, aku adalah orang yang hidup tanpa cinta disekelilingku, sejak lahir. Aku lahir dimalam Takbir, ketika aku hadir ke dunia ini, aku rasa yang pertama kali orangtuaku pikirkan, bukanlah sebuah nama yang indah untukku, bukan meng-adzaniku, tapi bagaimana cara menyingkirkanku, sesegera mungkin. Aku tidak tahu, mengapa hingga usiaku 7 tahun, aku masih hidup dan menyaksikan bagaimana ibu dan ayahku bertengkar setiap harinya, mereka saling memukul, di usiaku yang 8, tepat saat ulang tahunku yang ke-8, aku mendapat kenyataan, bahwa orang yang sangat kuharapkan cintanya, kakekku, meninggalkan ku, selama-lamanya, setelahnya nenekku yang menjagaku sudah tidak ada dimana-mana ketika aku bangun pagi, dan aku tidak pernah melihatnya lagi, beberapa minggu kemudian ayahku juga pergi, dia bilang akan mencari oma, tapi, sama seperti oma, dia tidak pernah kembali. Aku bukan berasal dari keluarga kurang mampu, dan aku bukan hasil dari hubungan gelap, orang tuaku, mereka menikah karena perjodohan yang konyol dan tolol, seenak dengkul kakek-nenekku menjodohkan mereka dan menghasilkan pertengkaran hebat setiap harinya dan berujung perginya mereka berdua, meninggalkan aku, yang sama sekali tidak minta dilahirkan, tidak tahu apa-apa, dan tidak berdaya. Diantara kejadian yang terjadi di 8 tahun hidupku, hanya satu yang merupakan kejadian baik, aku dijemput opa-oma ku dari pihak ibu, aku dibawa ke rumah mereka, aku tinggal disana dan diperkenalkan kepada sepupuku, mereka orang-orang hebat, diantaranya ada Abi, dia orang yang paling cocok denganku, aku dan Abi sudah cocok sejak pertama kali kami bertemu dikotak pasir di halaman belakang rumah Opa, hingga aku berumur 14 tahun, aku dan Abi punya kisah hidup yang sama, tapi buatku, Abi lebih beruntung, dan Abi mengatakan hal yang sama, Abi dipisahkan dari saudara kembarnya, Eka, yang kata Abi, dia lebih penting bagi orang tuanya, yang aku tahu hanya Eka punya penyakit parah sejak kecil, dan agar orang tuanya bisa konsentrasi merawat Eka, mereka menyerahkan Abi sejak kecil ke rumah Opa, bagiku itu sangat tidak adil, dan ternyata Abi mengatakan hal yang sama, “apa aku harus sakit lebih parah dari Eka, kalau aku ingin tinggal dengan orang tua-ku, Sa?” tanya Abi padaku dihari ulang tahun Abi yang ke-14, dan aku hanya bisa mengelus punggungnya. Aku dan Abi sama, sama bandelnya, sama badungnya, sama gilanya, sama-sama susah di nasehati Opa, setiap hari, aku dan Abi dimarahi Opa sepulang sekolah, tepatnya sepulang sekolah dan main. Kami memang terlalu cepat mengenal dunia malam, kami pergi ke bar, minum, dan pulang dengan wanita. Jika sedang dikurung, tidak boleh pergi keluar, aku dan Abi biasanya menonton film jorok, atau orang sering menyebutnya blue film (bf), aku dan Abi punya banyak koleksi bf dan majalah dewasa, tapi aku melihat perubahan di diri Abi, aku melihatnya solat di malam hari, aku tidak tahu dia solat apa, karena aku tidak mendengar adzan sebelumnya, jadi kutanya.
“Bi, ngapain lo?”. Tanyaku, lalu Abi menoleh sedikit ke arahku, dia terdiam, lalu menjawab.
“sedikit meminta maaf, Sa”. Dari jawabannya, dari kata-katanya, dari nada bicaranya, aku tahu Abi sedang punya masalah. Aku masuk ke mushala kecil itu, dan ikut Abi menyender di dindingnya, aku memandang langit-langit yang bertuliskan kaligrafi Allah.
“gue capek, Sa”. Aku menoleh, mengehela nafas, dan kembali menatap langit-langit.
“gue juga, Bi”.
“ternyata, usaha keras kita sama sekali gelap, sampe enggak kelihatan sama mereka”.
“itu karena mereka enggak punya mata lagi, Bi”.
“elo bener, Sa, mereka enggak punya mata, mata hati”.
Dan Abi pun menghela nafas panjang. Aku dan Abi sangat ingin kehidupan normal, aku dan Abi, iri, melihat sepupu kami yang lain begitu menyatu dengan keluarganya, mereka punya warna yang lain, mereka bisa menyandarkan diri mereka pada orang tua yang menyediakan selimut wool tebal, lalu menyelimuti mereka yang bersandar dan kedinginan. Aku dan Abi berusaha menarik perhatian orang tua kami, dengan cara yang sedikit keras, yaitu, nakal, aku dan Abi sudah melakukan segala bentuk kenakalan remaja, tapi hanya bentakan yang keluar dari mulut opa, hanya pengucilan dari keluarga kami dan teman-teman kami, usaha ini membuat kami semakin sendiri, dan itu tidak berhasil membuat orang tua kami menoleh pada kami, padahal kami sudah memberanikan diri, melukai diri sendiri, tanpa henti, tapi tetap saja tidak berhasil, dan kini, Abi bilang, dia sudah lelah, dan aku pun merasakan hal yang sama.
“Sa, gue enggak bisa kayak gini terus”. Sepertinya Abi mulai menangis.
“gue capek Sa, gue enggak tahu lagi gimana caranya buat mereka sadar Sa..kalau mereka punya anak selain Eka”.
Benar saja, Abi menangis, aku memegang bahunya, aku tahu, kemarin, sekitar 3 hari yang lalu, kami yang kembali bolos sekolah, kebetulan melihat Eka turun dari mobil sembari dipapah ibu dan ayahnya, tentu saja mereka ibu dan ayahnya Abi, mereka terlihat bahagia sekali, mereka tertawa dan mengantarkan Eka sampai ke dalam sekolah, keadaan mereka sangat berbeda sekali dengan keadaan Abi, Abi langsung terduduk lesu melihat itu.
“udah Bi, lupain aja soal yang kemarin..”.
“iyah Sa, gue lagi usaha buat itu, tapi...”.
“gue rasa ini enggak adil Sa, buat gue, gue juga anak mereka Sa, gue juga pantes mereka perlakuin kayak begitu, gue...”. Abi kini bukan saja menangis, tapi terisak.
“setidaknya gue senang ngeliat mereka bahagia..”. Tangis Abi mengecil, tapi aku tahu, rasa sakit dihatinya makin parah, dan lukanya makin membesar. Aku dan Abi sama sekali tidak mau menjadi anak yang nakal, hanya saja, menurut kami, ini jalan satu-satunya agar orang tua kami, pulang, atau sekedar menoleh, pada kami. Esoknya, aku terbangun dan mendapatkan Abi masih tertidur dengan wajah pucat, begitu aku raba keningnya, Abi demam, keningnya panas, dan ada keringat yang menetes di sekitar keningnya, dan..darah segar yang mengucur dari hidungnya, tanpa banyak waktu, aku bangun dan memanggil Oma di dapur, Oma pun bergegas ke kamar kami, aku, opa dan oma membawa Abi ke rumah sakit, keesokan harinya, Abi masuk ICU.
