CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Selasa, 07 Desember 2010

free time result

sebenernya, minggu-minggu ini danger banget jadi enggak terlalu bisa disebut 'free time' tapi dimata gue! hari danger bisa gue bikin jadi 'free time'. dimulai dengan download brush baru di deviantart.com. dan berkreasilah aku! hahaha





 dan diatas itulah resultnya!.hahaha
emang sih gue udah lama gak posting di blog, ehh sekalinya posting, gaje amet dahh!
haha. entah kenapa kalau posting blog bawaanya gaje mulu. haha.
wait my next posting, oke?
deal?
*apaan lagi==


brush (thanks:D!!):
modern style by circle of fire
night lights by m ajinah
splat spray can by qnerve
all throught summer by oddhearts
and many more...(i'm sorry to not write you one by one, your name is not write in your brush, and i'm forget where i download them:D, but soo many thanks for you all!)

Minggu, 17 Oktober 2010

Tak Seperti yang Ku Kira

sama kayak post-an sebelumnya, cerpen ini juga aku kirimkan ke LMRC-nya Lip Ice, tapi gak menang. hehehe. aku minta kritikannya ya?.
baca = kritik or comment. untuk post-an sebelumnya, baru 2 jam dipost, udah 4 orang yang baca, tapi mereka sama sekali enggak ninggalin kritikan. padahal aku perlu banget!. tolong ya?


Tak Seperti yang Kukira


Aku dan teman-temanku sedang kerja kelompok di rumahku, kami ditugasi membuat kliping tentang global warming dengan bahan-bahan yang berasal dari barang bekas. Aku(Odessa), Rara, Sojya, dan Lilli. Dan bukan kerja kelompok namanya jika tidak ada canda, tawa atau obrolan yang menghiasi kerja kelompok kami, yang mewarnainya hingga sulit untuk kami lupakan, walaupun itu hanya kerja kelompok membuat kliping. Dan tema pembicaaran kami kali ini lagi-lagi cowok, dimulai dari sms yang dikirim oleh Raffi, pacar Rara, yang meskipun hanya mengingatkan untuk makan dan shalat, tapi Raffi menyampaikanya dengan kata-kata yang dirangkai dengan indah, dan dimulailah kami membicarakan soal gaya bahasa pacar-pacar kami dan bentuk perhatian mereka.
“Raffi memang biasa begini, setiap hari selalu begini”. Ujar Rara bangga.
“begitukah? Keren! Raffi memang romantis ya!”. Puji Soyja.
“kalau Gilang sih, biasanya langsung telepon”. Aku Lilli tentang pacarnya, Gilang.
“benarkah? Sama kayak Nico, dia juga suka langsung telepon, itupun kalau enggak sibuk sih, kalau sibuk sih dia suka sms aja, tapi selalu, enggak pernah enggak!”. Kini giliran Soyja yang mengaku tentang perilaku cowoknya.
“bener-bener! Mereka tuh ya! Selalu nyuruh hal-hal yang kita udah tau, ya makan lah, ya shalat lah, mandi lah, belajar lah, padahal kan kita udah tahu!”. Ujar Lilli berapi-api.
“hmm, bener! Hehehe, mereka tuh, udah enggak bosen-bosen, buang pulsa lagi!”. Sanggah Soyja.
“hehehe, bener! Terus kalau enggak dibalas, langsung sms bertubi-tubi masuk, mulai dari nanya ‘kenapa enggak dibales’ sampai ngira yang enggak-enggak”. Ujar Rara menambahkan. aku seolah tidak bisa ikut dalam pembicaaran ini sebagai salah satu pembicara, aku hanya bisa menjadi pendengar. Pacarku, Oliver, dia tidak begitu, hhh, jangankan mengingatkan seperti itu, mengucap sayang pun jarang sekali, jika kusuruh, baru dia mau, itupun dengan nada terpaksa. Tapi, meski Oliver bersikap seperti itu, entah mengapa, inti hatiku berbisik, kalau Oliverlah jodohku. Kenapa ya?.
“heh! Kau diam saja Essa, kenapa?”. Soyja menepuk kakiku, membuat lamunanku tentang Oliver buyar.
“kalau Oliver bagaimana? Aku rasa hanya wajahnya saja yang ‘cool’, tapi hatinya lumer kan kalau deket kamu?”. Goda Lilli sambil menaikturunkan alisnya. Aku mengeleleng.
“tidak, Oliver jarang sms tidak perlu seperti itu”. teman-temanku tidak terlalu kaget mendengarnya, mungkin mereka berpikir itu sangat cocok dengan wajah Oliver yang jutek.
“hmm, aku rasa dia memang bukan orang yang seperti itu, aku yakin dia sayang sekali padamu”. Ujar Lilli menenangkanku. Aku mengangguk.
“dasar si Oliv! Enggak ke siapa-siapa sikapnya begitu, dingin, ehh, ke pacarnya aja begitu, Kamu sabar ya Essa, aku yakin Oliver sayang sama kamu, mungkin aja dia itu malu ngungkapinnya”. Rara menyemangatiku. Aku tersenyum kecil mendengarnya.
“hhh, dulu juga aku pikir begitu, tapi sekarang, sikap dingin Oliver makin menjadi..”.
“hhhm, perasaan kamu aja kali, firasat aku sih, Oliver cowok baik, buktinya aja, dia baru pacaran sama kamu, langgeng lagi, 1 tahun kan?”. Aku mengangguk mendengar pertanyaan Rara. Sojya dan Lilli tersenyum memandangku, aku tahu, mereka menguatkan dan mendoakanku, agar kuat menghadapi sikap dingin Oliver padaku. Dan mereka pun mengganti topik pembicaaran mereka, mungkin tidak enak denganku.

Perasaanku beberapa hari yang lalu tentang betapa dinginya seorang Oliver, pacarku, terhadapku, semakin terbukti. Sudah seharian ini Oliver tidak mengirimiku sms, hhh, rasanya kesal sekali menunggu ponselku ‘menyanyikan’ lagu Be Mine-nya Aditya, lagu itu merupakan nada dering khusus untuk kontak diponselku yang bernama Mine alias Oliver. Selama ini, Oliver yang selalu pertama mengirimiku sms, tapi kali ini, aku mengalah, aku mengirim sms pada Oliver, dan kutunggu balasannya...
Seharian aku menunggu ponselku ‘kena gempa’ bahkan hingga paginya, aku kesal dengan sikap Oliver, apa dia begitu miskin sehingga pulsa saja tidak mampu ia beli?. Apa harga pulsa lebih mahal ketimbang harga untuk sekali ‘minum’ Yarisnya?. Tidak baik memang berburuk sangka, jadi, kutunggu saja Oliver menyambangi kelasku. Aku tunggu. Dan hingga istirahat ke dua, kegiatan menungguku aku hentikan, aku lelah menunggu.
“daripada nungguin Oliver terus, mending kita ke perpustakaan, kita cari materi buat rangkuman redoks aja, mau?”. Ajak Soyja sambil mengelus pungguku, aku tersenyum dan menggangguk, setelah aku mengambil notebookku, kami berjalan santai menuju perpustakaan. Kami sampai ditempat rak-rak penuh dengan buku yang berjejer rapi, tempat itu tidak sepenuhnya sepi, beginilah suasana perpustakaan kami, Library of Gabor High School. Sejenak aku melupakan Oliver, dan mulai ikut bergurau dengan teman-temanku, tapi sesosok yang sudah dipaten dalam otakku muncul, sosok yang membuat perasaanku tidak menentu karena dibuat menunggu sms darinya. Oliver. dia sedang membaca buku di meja nomor 17. Aku menghampirinya, tapi Oliver malam beranjak dari tempat duduknya, ketika ia berdiri, ia sadar akan keberadaanku, ia tersenyum, lalu...ia malah pergi, bukannya menghampiriku. Rasa kesalku makin memuncak. Aku biarkan saja dia.
“lebih baik, kamu tunggu saja dia dimobilnya nanti sepulang sekolah”. Aku mengangguk dengan wajah tertekuk mendengar usul Lilli. Sepulang sekolah, aku langsung menuju tempat parkir siswa, aku melihat Oliver masuk ke dalam mobilnya, Oliver tidak menungguku?. Aku berlari ke tempat mobil Oliver diparkir, tapi sial! Aku tersandung lubang yang dibuat dengan indah secara alami dan membuatku terjatuh dengan sukses sekali, hingga lututku berdarah. Aku memegangi lukaku sambil mengutuki lubang itu.
“kamu kenapa? Ya ampun, sampai berdarah begitu, sini”. Aku menggangkat kepalaku ketika mendengar suara yang sangat kukenal datang, tangannya ikut membersihkan tanah yang menempel disekitar lukaku. Wajahku kembali kutekuk. Oliver membantuku berdiri. Dan memapahku ke dalam mobilnya. Oliver mengambil tisu dan membasahinya dengan air mineral setelah mendudukanku di jok depan mobilnya. Dia membersihakan darah yang menempel dilukaku, dan menutupinya dengan kassa setelah melumurinya dengan antiseptik, dia merekatkan plester disekeliling kassa dengan sangat hati-hati dan aku yang memperhatikannya dengan wajah kusut.
“langsung pulang ya?”. Aku mengangguk. Aku sempat memberinya kesempatan untuk menjelaskan kenapa sikapnya semakin dingin padaku atau untuk sekedar meminta maaf atas sms yang tidak ia balas, tapi setelah 15 menit aku dan dia ada di satu mobil, dia tidak membuka mulutnya untuk memulai pembicaraan. Akhirnya aku kembali mengalah.
“kenapa kemarin enggak balas smsku? Nomor kamu enggak ganti tiba-tibakan? Ponsel kamu juga enggak dijambretkan? Hah?”. Aku memandanginya dengan wajah serius. Bukannya langsung ambil suara, dia malah sibuk menutup batuknya.
“aku ketiduran..”. jawabnya dengan sangat pendek.
“begitukah? Itu bukan jawaban Oliver”.
“lalu? Aku harus jawab apa? Aku memang ketiduran”. Seketika mataku berair.
“hmm, hanya segitukah jawabanmu? Untuk aku yang menunggu balasan darimu semalaman?”. Oliver menghentikan mobilnya tepat didepan rumahku. Dia menunduk.
“kau sangat baik Oliver, terima kasih atas kassa dan antiseptiknya, dan juga untuk tumpangannya, ini sangat berarti!”. Ujarku sambil menghapus airmataku. Oliver turun dari mobilnya dan membantuku turun. Aku menepis tangannya. Aku berjalan pincang tanpa menatapi Oliver. Hingga sampai ke depan pintu, aku masih melihat bayangan Oliver di kaca jendela sedang memandangiku dari depan mobilnya, begitu aku masuk, aku lihat dia sudah pergi. Malamnya, pikiranku sudah membuat statement tentang sikap Oliver hari ini, dia sudah tidak sayang padaku, tapi hatiku menyanggahnya dengan membuat statement lain, Oliver sedang ada masalah. Mana yang harus kupercaya? Entahlah, aku rasa keduanya benar, dan menurutku statement pikiranku lebih kuat dibandingkan hatiku.
“dasar! Masa dia kayak gitu Sa?”. Ujar Rara sambil berkacak pinggang, esoknya aku cerita pada teman-temanku soal sejadian kemarin.
“kalau memang dia ada masalah, seharusnya dia cerita sama kamu, Sa”. Kata Soyja.
“bener! Bener! masalah sih masalah, tapi jangan kamu yang jadi pelampiasannya dong?”. Kata-kata Lilli semakin menguatkan pernyataan Soyja.
“terus? Apa yang harus aku lakuin sekarang? diemin aja? Atau?...”. kata-kataku menggantung.
“iya, diemin aja, dia juga diemin kamu kan, Sa?”. Usul Sojya. Benar!. Aku menggangguk dan tersenyum.
“salah enggak kalau aku enggak perhatiin dia lagi?”. Tanyaku. Sojya dan Rara mengangguk.
“enggak, orang dia juga enggak perhatiin kamu, daripada kamu sakit hati karena dia enggak perhatiin kamu, lebih baik kamu juga enggak perhatiin dia aja, biar kamunya enggak sakit hati, OK?”. Lilli mengacungkan jempolnya sambil tersenyum. Aku membalas senyuman mereka. senyum mereka semakin merekah ketika aku membuka kotak makan siangku, isinya karage balado. Lima menit kemudian, isinya tinggal kertas tisu. Kami memang rakus.
Sepulang sekolah, aku tidak langsung pulang, aku mampir ke toko kain, sebentar lagi Oliver ulang tahun, meski sikapnya menjijikan terhadapku, tapi dia tetap pacarku, aku ingin membuatkan hiasan dinding dari kain flanel, Oliver senang sekali memajang photoku dikamarnya, aku akan buat frame dari flanel yg berisikan photoku dan Oliver waktu kita liburan di Anyer. Sebenarnya, setiap aku mengingat Oliver, mataku langsung ‘mencuci’ dirinya sendiri dengan air mata. Tapi, aku rasa, kado ini akan menjadi kado terakhirku pada Oliver. Oliver mungkin sudah jenuh denganku, kami sudah 1 tahun berpacaran, dan sudah 1 tahun juga semuanya berjalan lancar dan biasa-biasa saja, sikap Oliver yang sabar dan tidak cepat marahlah yang membuat hubungan kami berjalan tanpa pertengkaran. Mungkin batas waktu yang diberikan Tuhan padaku hanya 1 tahun, aku terima, aku rasa, aku bukan yang terbaik untuk Oliver. hari ini, baik aku maupun Oliver ternyata tidak saling menunggu, statement pikiranku makin kuat. Aku pergi ke toko kain sendiri, hari ini pelajaran cukup banyak, itu berarti buku yang kubawa ditasku juga banyak, itu berarti lagi, tasku makin berat, sehingga aku memutuskan langsung pulang setelah mendapatkan kain flanel ungu dan hijau. Dalam perjalan menuju halte bus, aku merasakan sesuatu dikantongku bergerak, tepatnya bergetar, hum, ternyata ponselku, displaynya menunjukan ‘ibu’.
“halo, assalamualaikum, kenapa bu?”.
“Sa, ibu lagi dirumah sakit, jenguk sepupumu, Shakil, kamu bisa kesini? Ibu lupa taruh kunci dibawah keset, hehehe, bisa kan nak?”. Oh, lagi-lagi, penyakit pikun ibu kembali merugikanku.
“iya, Essa kesana bu, Shakil masih dirumah sakit yang kemarin?”.
“iyalah, masa pindah-pindah, emang kontrakan?”. Ha? Ibu kok jawabnya enggak nyambung banget sih!. Aku langsung menutup telepon, untung saja aku belum naik bis, bisa-bisa aku harus naik bis lagi ke rumah sakit dari rumahku. 15 menit setelah aku naik bis, aku diturunkan di depan rumah sakit tempat Shakil dirawat. Tanpa banyak gaya, apalagi nongkrong didepan rumah sakit, aku langsung masuk dan menuju lift berada. Hah?! Siapa yang kulihat itu?, aku berjalan menuju lift dan melewati sebuah ruangan, entah ruangan apa, tapi yang pasti aku menemukan sosok Oliver di dalamnya sedang duduk dan terbatuk-batuk, begitu akan kupanggil, Oliver lebih dulu pergi, masuk ke pintu yang ada diruangan itu. Oliver sakit?. Entahlah, aku menunggunya dikursi yang ada didepan ruangan itu, tapi sialnya, ibuku meneleponku dan tidak mengerti jika anaknya terjebak macet (itu hanya alasanku saja), hebatnya dia tahu aku sudah ada dirumah sakit, ibu menyuruhku cepat masuk ke kamar Shakil, dia bilang ada nasi padang yang masih hangat untukku. Terpaksa aku menuruti kemauan ibuku, dibalik semua itu, perutku memang sudah membunyikan alarmnya, tanda asam lambungku sudah mencapai batas maksimal. Setelah menghabiskan satu piring nasi padang beserta rendangnya, aku bergegas ke lantai dasar, dalam hati aku terus berharap Oliver masih disana, dan mau menceritakan kenapa dia bisa ada dirumah sakit tanpa memberitahuku sebelumnya. Hari ini, dewi fortune absen mampir ke tempatku, aku menunggu 1 jam didepan ruangan itu hingga ruangan itu ditutup petugas, tapi Oliver tidak muncul, apa Oliver ketiduran dan terkunci didalam?, tidak mungkin, seseorang pasti menyadarinya. Kini muncul perntanyaan besar dikepala maupun hatiku, ada apa dengan Oliver? dia sakit?, sepertinya ya, Oliver sakit, tapi? Kenapa dia tidak cerita?, aku cukup dekat dengan temannya, Devans,aku langsung meng-smsnya setelah aku tidak mendapat balasan apapun atas sms yang kukirimkan pada Oliver.
Hemm, Oliver emang agak pucat tadi, kenapa emang Sa? Enggak tanya langsung sama dia?. begitulah jawaban Devans atas smsku. Kasihan Devans, aku tanya dia jawab, dia tanya aku tak jawab. Aku tidak menjawab karena aku takut pembicaraan akan semakin panjang sementara pulsaku sudah semakin pendek alias kritis.
Esoknya, begitu aku sampai disekolah, aku langsung pergi ke kelas Oliver, tapi Oliver tidak sekolah, ada surat dari Rumah sakit tempat Shakil dirawat, dokter bilang dia butuh istirahat 2 hari. Tidak dituliskan disana penyakit apa yang diderita Oliver. Perasaan tidak enak makin mencekikku ketika Oliver sama sekali tidak pernah menjawab sms dan teleponku sejak kemarin malam. Ada apa dengan Oliver? sebegitu dinginkah dia sampai-sampai semua teman-temannya tidak mendapat kabar satu hurufpun darinya soal kesehatannya?. Sepulang sekolah, aku sebagai pacarnya dan salah satu orang yang masih peduli pada ‘kedinginannya’ mendatangi rumahnya, tentunya bersama Devans dan Aldi, teman-temanya, tapi kami disambut dengan rumah yang terkunci rapat, tetangga Oliver bilang, ada sekitar 2 sampai 3 mobil meninggalkan rumah ini kemarin sore, dan salah satu dari mobil-mobil itu ada mobil Oliver. Pergi kemanakah Oliver?. Entahlah, Oliver bersikap terlalu dingin, dia bersikap seolah aku tidak akan memperdulikannya, seolah aku tidak menghawatirkannya, seolah aku bukan siapa-siapanya, dasar aneh!. Baiklah, jika itu yang kau mau, aku akan benar-benar tidak merisaukanmu lagi,soal bagaimana kesehatanmu dan apapun yang menyangkut dengan dirimu, mulai sekarang itu urusanmu sendiri, aku akan benar-benar melupakanmu, karena sikapmu yang membuat seolah kau ingin meninggalkanku dan melupakan semuanya. Jelas sekali, jika aku hanya debu yang mengusik hidungnya untuk bersin. Sangat tidak berarti, bahkan, cenderung merugikan.

Pikiran dan hatiku memang tidak bisa diajak kompromi dengan niatku yang memutuskan untuk tidak mempedulikan sosok Oliver, sejak disambut dengan indah oleh pagar terkuncinya rumah Oliver. Pikiran dan hatiku tidak henti-hentinya berdiskusi dan memberikan sugesti agar aku melenyapkan egoku lalu melepon Oliver. Aku rasa itu percuma. Tidak hanya mereka yang membuatku gila karena Oliver. Ibu dan sepupuku, Ryan, juga selalu menanyai tentangnya dengan tampang polos, seolah tak tahu kalau sosok Oliver sedang dalam proses pen-delete-an dalam pikiranku. Aku tidak pernah mengira, aku dan Oliver akan menemui akhir yang penuh tanda tanya begini setelah 1 tahun memulai dan menjalani. Mungkin ini sudah masuk aturan hidupku dan Oliver.
“nak, ikut ibu ya?”. Aku yang sedang mencoba cardigan baru dikagetkan ibu. Kebetulan sekali aku sudah mandi dan berpakaian rapi, ditambah ibu yang memancingku dengan agar-agar strawberry ditanganya.
“disana ada Om Rudi loh?!, dia bilang pengen ketemu kamu”. Hmmm, tawaran yang menggoda untuk meninggalkan rumah di-weekend ini. alhasil, aku ikut ibu dan membantunya membawakan 2 tas berat berisikan makanan. Ternyata kita pergi ke rumah sakit lagi, menjenguk Shakil, saudaraku itu dirawat karena patah tulang serius dibagian betis, suruh siapa punya hobi memanjat pohon kelapa. Aku sampai dirumah sakit dengan cepat. Aku melewati ruangan dimana aku melihat sekelebat sosok Oliver yang sedang terbatuk-batuk lalu menghilang ketika menuju lift. Dan sepertinya hal itu terjadi lagi. Aku melihat sosok Oliver lagi diruangan itu. Tanpa dikomandoi, aku langsung melepas tas yang kupegang dan menghampiri Oliver.
“Oliver..”. Oliver yang memakai jeket tebal memalingkan wajahnya kepadaku. Bak melihat hantu disiang bolong, ekspresi wajahnya menandakan dia begitu terkejut melihat ku datang dengan tampang kesal.
“dinda..”. ujarnya, dia memegang tanganku dan mengajakku duduk. Aku duduk disampingnya. Tangan Oliver belum dilepasnya dari tanganku meski aku sudah mencoba untuk melepas genggamannya yang dingin.
“aku bingung, harus mulai dari mana..”. Aku Oliver. Matanya masih belum bisa menatap mataku layaknya seperti biasa kita bicara berdua. Seseorang berbaju putih keluar dari pintu yang ada didepan ku, dia tersenyum dan melambaikan tangannya pada Oliver. Oliver beranjak memasuki pintu itu dengan sebelumnya mengelus rambutku. Aku tunggu, aku bersumpah, jika Oliver tidak keluar, menghilang tiba-tiba seperti waktu aku menunggunya dulu disini, atau tidak menghiraukanku seperti yang terjadi diperpustakaan waktu itu, aku tidak pernah lagi mau menunggu untuknya, tapi sepertinya itu tidak akan terjadi, Oliver keluar dari ruangan itu 30 menit setelahnya. Dan tanganya langsung menarikku mengikutinya, aku berasa kehilangan setengah dari volume otak dan darahku, tubuhku begitu ringannya mengikuti tarikan tangan Oliver. dia menarikku hingga ke taman rumah sakit. Kami duduk dibangku hijau yang ada disana.
“dinda..”. ujarnya menggantung, sepertinya dia mulai menatapku, tapi kasihan sekali dia, aku tidak menatapnya.
“apa? Sejak tadi yang bisa kau ucapkan hanya dinda..dinda..saja! baru bisa ngomong dinda? Harusnya kamu belajar kata maaf dulu sebelum ketemu sama aku!”. Aku bosan mendengar perkataan Oliver yang menggantung terus menerus. Oliver terlihat menarik nafasnya.
“maaf..maaf Dinda”. Dia menundukan wajahnya, dari gema suaranya, aku bisa tahu kalau dia sedang sedih.
“aku sudah menunggu untukmu berhari-hari...”. air mataku mulai keluar. Oliver menyekanya dan menatapku lebih dalam.
“berhari-hari?”. Tanyanya polos.
“kau tidak tahu? Aku hampir saja menghancurkan pagar rumahmu karena terkunci saat aku kesana”.
“dinda sampai ke rumahku?”. Tanyanya dengan wajah tak percaya.
“tentu...aku sangat mengkhawatirkanmu..tapi sepertinya kau tidak tahu..kau seenaknya saja menghilang dan mendiamkanku selama itu”. Aku menghela nafas, air mataku terus mengalir. Kekesalanku sudah terlalu menumpuk dan mulai mengeras dihatiku.
“katakan padaku, aku harus mulai dari mana setelah mengucapkan kata maaf...”. Pertanyaan yang sangat bodoh telah meluncur dari mulut Oliver.
“dari mana? Apa kau bodoh? Dari awal! Kau tahu?!”.
“dari awal?”. Hilang sudah kesabaranku. Kini waktunya mengeluarkan semua cerita yang kusimpan dalam hati, semua keluhan yang tak bisa kusampaikan pada Oliver, yang menumpuk didasar hati, yang menghasilkan sebuah tanda tanya besar dan keperihan. Sudah cukup aku bermain manis dihadapannya, aku tidak mau lagi mengalah, mengalah untuk mengerti sikap dingin Oliver yang menurutku sudah masuk kedalam stadium lanjut itu. aku sudah tidak peduli, akan bagaimana jadinya lagi hubunganku dengannya setelah menceritakan hal ini. Aku menghela nafas, itu berarti. Aku harus merelakan energiku hari ini dihabiskan untuk berbicara panjang lebar dihadapan Oliver.
“ya dari awal!, dari awal kita pacaran dengan sikap dinginmu yang membuat semuanya hambar!, Oliver?, aku tidak pernah menuntut kau untuk menjadi romantis padaku, aku juga tidak pernah menuntutmu menjemputku kapanpun, mengingat hari ulangtahunku, menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat, membuatkanku pesta kejutan, memberikan ku kado istimewa, mengucapkan selamat malam, menyuruhku makan, atau memberi perhatian lebih padaku, dan...”. Hah, nafasku beradu panjang dengan kekesalan yang menumpuk didadaku.
“mengucap sayang padaku...aku sangat mengerti Oliver, aku sangat mengerti sikapmu itu, aku menganggapnya sebagai hal biasa, aku menganggap semua yang tak kau lakukan itu, sebagai, efek samping penyakit lupamu, dan aku maklumi itu, aku selalu yakin, yakin dalam hati, kau mencintaiku, meski kau tak melakukan semua yang orang lakukan pada pacarnya, meski kau tidak melakukan apapun yang beratikan kau mencintaiku, tidak pernah, sekalipun...”. kini, kekesalan itu menguap ke otaku, dan kemudian, kekesalan itu jatuh, dari mata, dalam bentuk air mata, dipipiku. Oliver hanya terdiam, meski awalnya tercengang, dan kini jari-jarinya ada dipipiku, dia mengusap airmataku. Dan aku membiarkannya.
“kenapa dinda tidak bilang sejak awal?”. Hhh, Oliver adalah salah satu anak pintar disekolahku, 2 bulan yang lalu, Oliver menjuarai olimpiade fisika, sebelumnya, Oliver menjuarai web design competition dan hasilnya kini dipakai sebagai website resmi MTV Thailand, di awal semester dia terbang ke Singapura untuk mengikuti lomba desain case ponsel. Tapi dibalik semua kepintaran yang ia punya, ia sangat bodoh dalam urusan cinta, dia sepertinya tidak tahu cara bagaimana memperlakukan orang yang ia sayang. Logika Oliver jongkok.
“bilang? Sejak awal? Oliver? aku dengar, Devans dan Aldi, sahabatmu, juga sama denganmu kan?, mereka juga punya pacar kan? Apa kau tidak pernah melihat perlakukan mereka pada pacar-pacarnya? Bedakan dengan cara mereka memperlakukanmu? Hah?!”.
“Oliver...dengar? aku ingin, ingin sekali kau memperlakukanku lebih dari kau memperlakukan temanmu, lebih dari kau memperlakukan orang lain, lebih lembut, dan lebih...”. aku tidak tahu lagi bagaimana caranya menjelaskan apa yang kuinginkan dan apa yang pantas kudapatkan dari Oliver, aku rasa dia masih tidak mengerti.
“semakin hari, aku semakin ragu, akan perasaanmu padaku, yang dulu, kau bilang itu cinta, sekarang, aku tidak yakin, kau masih sebut itu cinta”. Oliver seperti tersentak. Sepertinya, kini bagianku mengusap air matanya, tapi tentu saja itu tidak akan kulakukan.
“dinda...jadi, selama ini kau menganggapku hanya main-main saja denganmu ?”. Oliver menatapku, dengan mimik serius.
“ya, kau seperti mempermainkanku, kau hanya membuang waktuku saja”. Oliver menggenggam tanganku.
“seharusnya, dinda tahu, kalau semua itu, bukan sifatku, lagipula, aku rasa, cukup bilang sayang sekali saja kan?, kalau berkali-kali, seperti tidak betulan”. Tidak betulan?!. Apa maksudnya sih?.
“sebenarnya, aku tahu, tahu sekali sifat teman-temanku pada pacar mereka, aku juga mau melakukan hal sama pada dinda, tapi, aku takut dibilang gombal, takut dinda tak percaya”. Aku merasakan kejujuran disetiap kata-kata Oliver.
“kenapa harus tak percaya?, aku menerima kau, dulu, sebagai pacarku, karena aku percaya, aku percaya, kalau kau benar-benar sayang padaku, tapi sekarang, sudah hilang, sifatmu yang menghilangkan segalanya”.
“hah?! Maksud dinda?”.
“yah, semuanya, mana mungkin ada cowok yang dingin ke ceweknya sendiri, yang katanya dia sayang banget sama ceweknya itu, mana mungkin kan?”. Oliver mengenggam tanganku, aku merasakan ada yang membasahi tanganku, dan itu ternyata air mata Oliver, Oliver menangis.
“Oliver?”.
“Ketahuilah dinda, aku sangat sayang padamu, sifatku, memang sudah begitu sejak awal, dan belakangan ini makin parah, karena, sesuatu”.
“sesuatu?”.
“yah, sesuatu itupulalah yang menyebabkan aku tidak menghubungimu lagi beberapa waktu kebelakang”.
“apa sesuatu itu? ceritakanlah, jika kau masih menganggapku sebagai pacarmu”.
“ibu dan ayahku, dinda...”. airmata Oliver semakin bertambah volumenya.
“mereka akan bercerai, dan tidak ada yang mau memegang hak asuhku”. Ucapnya lagi, apa?!.
“Oliv..kenapa tidak cerita sejak awal?”. Oliver semakin sesenggukan.
“aku, sebenarnya mau menceritakan ini semua, tapi setiap aku mengingat, mengingat pertengkaran mereka, sikap mereka padaku, dan semua hal yang ingin ku ceritakan, pada dinda, aku semakin sakit dinda, mereka tega sekali padaku”.
“sejak kapan?”.
“sejak aku kecil, setiap hari, dimana dirumah ibu dan ayahku ada, setiap hari itulah mereka selalu bertengkar, setiap haripulalah aku memikirkan hal itu disekolah”. Pantas Oliver pendiam sekali dikelasnya. Ini kah yang menyebabkan Oliver tidak tahu cara memperlakukan orang yang ia sayang?, karena ia tidak pernah disayangi?.
“jujur, dinda, aku tidak begitu menyayangimu, tapi, Devans dan hatiku bilang, kau orang yang sangat penyayang, itu terlihat jelas sekali, saat kau merawat kelinci-kelinci dibelakang sekolah yang sakit, tapi entah mengapa aku tidak begitu merasakan itu saat bersamamu, aku bahkan pernah berpikir, mungkin aku harus menjadi kelinci dulu baru kau sayang padaku”.
“sayang?, hhh, sejak awal juga aku tidak begitu menyayangimu, sifat dinginmu yang membatasi rasa itu, aku takut kau hanya mempermainkanku saja, maka, aku tahan agar rasa itu tidak begitu muncul, tapi tak bisa Oliver...”.
“aku juga, rasa itu sekarang menghinggapi seluruh hatiku, dan itu jadi hambar rasanya karena dinda tidak mau menunjukan perasaan dinda padaku”.
“maksud kamu?”.
“dinda, dulu aku tidak begitu menyayangi dinda, aku menjadi pacar dinda hanya karna aku ingin tahu bagaimana rasanya disayangi, bagaimana rasanya dicintai, tapi dinda tidak pernah memberikan itu semua padaku, disaat aku memutuskan tidak ingin lagi bersama dinda, rasa itu datang, dan tidak berbalas sama sekali, aku juga bingung bagaimana mengungkapkannya pada dinda, sekarang, rasa itu makin memenuhi hatiku dinda, dibeberapa waktu belakangan ini, aku makin merasakannya, tapi rasa itu datang disaat hatiku sakit melihat perceraian orangtuaku yang sudah didepan mata...”. air mata Oliver makin berlinang, kini gantian, aku yang mengusapnya. seharusnya aku ada disaat itu. kasihan Oliver.
“dinda, mau kan, dinda membalas rasa itu..”. ucapnya sambil meletakan tanganku didadanya.
“aku janji dinda, aku akan belajar cara memperlakukanmu, dengan lembut, layaknya seorang pengeran memperlakukan putrinya”. Wajahnya terlihat serius meski air matanya tidak kunjung surut.
“benarkah? Kau janji Oliver? dan juga..kau janji akan menceritakan apapun kepadaku?”. Tanyaku, akupun serius sekali saat ini. Oliver mengangguk mendengar pertanyaanku, dia tersenyum kecil, sangat manis.
“baiklah, aku harap kau bisa berubah”. Aku tersenyum kecil padanya. Oliver membalas senyumanku.
“tentu, dinda bantu aku ya?”. Aku mengangguk.
“terimakasih dinda”. Ucapnya sambil tersenyum, dan, Oliver memelukku, dia agak canggung saat meraih kepalaku, dan meletakannya dibahunya. Terlihat sekali ke-canggung-an Oliver saat dia mengelus rambutku, dia mengelusnya dengan perlahan, gerakan tanganya terasa ragu. Aku tertawa kecil. Aku mengangkat kepalaku, tidak enak dilihat jika kita terus-terusan seperti ini.
“lalu, kenapa kamu ada disini?”. Tanyaku, Oliver lagi-lagi terbatuk-batuk.
“kamu sakit apa?”. Tanyaku lagi. Oliver mengeleleng.
“aku hanya demam, kebetulan dokter yang tadi memeriksaku itu Omku, dialah yang akan memegang hak asuhku”.
“ohh, hanya demam? Benarkah?”.
“ehmm, sebenarnya, asam lambungku naik, tapi, sekarang sudah agak mendingan, dinda jangan terlalu khawatir ya?”. Jawabnya sambil mengelus pipiku. Aku tersenyum. Setelahnya, Oliver malah memegangi perutnya, raut wajahnya sedikit mencerminkan kesakitan.
“kenapa?”.
“aku...lapar dinda, makan yuk?”. Aku tertawa.
“ayo!, bubur ayam ya?, maag kamu kan belum sembuh betul, Ok?, aku tahu kok tempat makan bubur ayam yang enak, dijamin kamu bakal ketagihan”. Tawarku sambil mengajaknya berdiri, aku menggenggam tangannya, dan wajah Oliver mulai memerah. Aku tertawa kecil melihatnya.
“ketagihan? Jangan-jangan bubur ayamnya pakai bubuk ekstasi lagi dinda?”. Tanyanya konyol.
“masa? Emang kamu yang buat ya? Ohhh”. Oliver tertawa sambil mengelus kepalaku. Kami berjalan menuju tempat parkir sambil bersenda gurau, dari kejauhan, aku melihat ibuku tersenyum memandangiku. Baguslah dia tidak marah, karena aku tinggalkan tas plastiknya ditengah jalan rumah sakit. Aku juga melihat Oliver tersenyum, pada seseorang, dia dokter yang tadi, Omnya Oliver, senyum Oliver begitu lepas sehingga gigi putih Oliver terlihat berjejer rapi digusinya.
“dinda, aku menyayangimu, jangan pernah lupa untuk mengingatkan aku mengatakannya setiap hari padamu, agar aku terbiasa”. Ucapnya sambil mengelus pipiku sesampainya kami didalam mobil Oliver. aku mengangguk.
“tentu, aku juga, sayang padamu, dan aku rasa, aku tidak akan lupa untuk mengucapkanya setiap hari padamu”. Oliver tertawa. Sepanjang jalan kami saling bercerita, tentang kebodohan masing-masing di satu tahun kebelakang, aku merasakan kata-kata, gema suara dan tawa Oliver yang berbeda dari yang sebelumnya, lebih lepas. Sepertinya Oliver sudah ‘sembuh’ dari penyakit dinginnya.
“dinda, ternyata disanyangi itu, indah ya rasanya?”. Aku tersenyum, sembari berdoa dalam hati, agar rasa ini, tidak akan pergi, apalagi hilang, selamanya. Amin.

Pelajaran Berharga


 cerpen yang aku kirim buat lomba cerpen, tapi? cerpen ini menuai kegagalan. haha!
karena cerpen ini gagal, buat yang baca, aku minta tolong banget buat ngritik apa yang kurang atau yang salah sama ini cerpen. makasih!!


Pelajaran Berharga
EVENT ANKAD, BUKA PUASA BERSAMA, ikut yahh?:D:D:D
Ada beberapa messege baru di facebookku, dan salah satunya pesan itu, pemberitahuan buka puasa bersama, bareng Ankad,Ankad itu bukan nama orang tunggal, tapi jamak, Ankad adalah sebutan untuk kelas kami waktu smp dulu. Itu artinya buka puasa bareng sambil reuni. Wahhh, untungnya masih tanggal muda, kalau enggak, aku harus minta uang ‘eksternal’ sama ibu. Bulan Ramadhan seperti ini memang sarat akan ajakan buka bersama, itu berarti sarat juga dengan uang ‘eksternal’.
“Lin, lo mau ikut kan?, bantuin gue ngurusin booking tempatnya ya? Mau ya?”. Pinta Laina dengan sangat meminta di telepon. Setelah menerima messege itu, aku langsung menelepon Laina. Dia BB(Best Buddy)-ku sewaktu smp, sayangnya aku dan dia sekarang tidak satu sma.
“ok! asal gue free ya? Hehehe”. Ujarku asal. Dari sana terdengar suara helaan nafas.
“padahal elo sama Cindy yang gue harepin nraktir gue”. Ceile ini anak, tau gue lagi enggak subur juga yey?!.
“yah elo, hehe, kapan mau booking Ras?”.
“lusa, sekarang sama besok gue ada les”.
“rajin amat sih lu, dari smp kerjaan lu les mulu, kecantol guru les lo ya?”. Laina tertawa.
“yee, gue suka sama cowok pilih-pilih kali Lin!”.
“ye gue kira lo enggak pilih-pilih”. Ejek gue sambil menekankan suara gue untuk kata-kata ‘enggak pilih-pilih’.
“udah ah, mulai lagi kita, berlantur ria, hehe, gue tunggu lo ya? Di dago jam 3, OK?”.
“OK!”. kata itulah yang menjadi kata penutup pembicaraanku ditelepon(tanpa salam, dasar Laina ama gue emang sama-sama mantan preman dulu!). Aku segera mengelap layar iPhone-ku yang berminyak karena terlalu lama bersentuhan(apa bukannya berdempetan?) dengan pipi ku yang banyak mengandung minyak, jika itu minyak bumi, mungkin aku sudah lama menggantungkan Sony Alpha980(merek kamera SLR yang sangat mahal!) dileherku.
“telepon dari siapa Ai[1]?”. Tanya Ludwig sambil mengelus lembut kepalaku. Ludwig adalah pacarku satu-satunya, hehehe. Kami sudah 11 bulan sama-sama menyandang status berpacaran, tentu saja dia denganku dan aku dengannya.
“Laina, dia ngajakin ngebooking tempat buat buka bareng ntar sabtu”. Jawabku seraya tersenyum.
“hah? Sabtu? Yahh, itu kan hari jadian kita Ai?”. Ya ampun! Apa yang selama ini ada diotak gue sih? Masa annniversary day aja kagak hafal gue!, mana belum nyiapin hadiah lagi?!.
“oh iya! Gimana dong? Aku udah kelanjur bilang iya sama temen-temen”. Aduh gimana ya? seharusnya hal itu udah aku siapin jauh-jauh hari, bego banget sih!. Aku lihat wajah Ludwig yang santai-santai aja menyikapi ke-bego-an-ku itu.
“ya udah, kamu ikut aja, besoknya, baru kita rayain, gimana?”. Usul Ludwig tenang. Hmm kamu emang briliant sayang. Hahaha!. Dia enggak marah ya? Ajaib!.
“enggak apa-apa?”. Tanyaku hati-hati, Ludwig mengangguk seraya tersenyum. idihh!. Lucu.
“tentu, jangan sampai duluin aku daripada temen-temen kamu, aku rasa mereka lebih penting, kan mereka yang udah nemenin kamu 3 tahun lebih, iya enggak?”. Ahh! Ludwig! Sekali lagi lo bikin gue jatuh cinta.
“makasih sayang”. Ludwig tersenyum manis setelah aku mengucapkan kata ini, dia membelai rambutku, dan lalu kembali berkutat di notebooknya. Enggak repot ya punya Ludwig?.
Hari sabtu pun akhirnya datang. Karena itulah jam 3 sore aku sudah mandi dan bersiap untuk shalat Ashar, setelahnya, langsung, enggak pake basa-basi, aku memilah-milah dan mematut-matut baju yang pantas(dan tentunya belum kupakai didepan mereka). Karena ini acara bulan Ramadhan, baju yang kupakai harus kucocokan dengan warna jilbabnya, aku pakei jilbab hei! Keren gak?. Aku benar-benar semangat pakai jilbab setelah Ludwig memujiku pada saat aku memakainya diacara pengajian syukuran Om-ku tahun lalu. Hehehe, padahal sebelumnya guru-guru sudah menghimbau muridnya untuk berjilbab, hampir setiap hari loh! Mereka mencoba mengingatkan kami, tapi, Ludwig memang penyihir, enggak perlu nyuruh, cukup muji dengan tatapan polos nan bloonnya Ludwig, dia udah berhasil nyihir aku ampe pakei jilbab, meskipun sedikit-sedikit, Ludwig bilang, yang pertama kudu dijilbab-in tuh hati, baru fisik. Ahhh, Ludwig emang keren, kebanyakan cowok suka ceweknya terbuka, eh, dia malah suruh aku nutupin. Makin sayang dah!. Akhirnya acara mematut-matut-dan-mencampur-campur-pakaian-ku selesai dengan sangat sukses, yah, emang simple sih, tapi berkelas!(simple namun berkelas? Bisa lo banyangin gak?). Tinggal dibedak trus lipglossin bibir. Lagi asyik-asyiknya milihin sepatu yang pas buat setelan t-shirt dress+brown jeans+cream cardigan, eh si gondrong alias Ludwig nelpon.
“hallo assalamualaikum?”. Sapaku setelah mengangkat telepon, pandanganku masih tertuju pada tumpukan sepatu di samping lemari pakaianku.
“walaikumsalam, Ai, udah berangkat?”.
“belom, masih pilih-pilih sepatu, menurut kamu aku cocok pake yang ada heels-nya atau flat aja yang?”.
“oh, yang flat aja, ntar kaki kamu sakit, ehm, Ai, aku gak bisa antar kamu, gimana dong?”.
“oh, gak apa-apa, aku berangkat sendiri aja, orang deket kok”.
“aduh, aku khawatir kalau kamu naik angkot, aku teleponin taksi mau ya?”.
“enggak usah, aku naik angkot aja”.
“ih, gimana kalau ntar kamu dicolek-colek sama yang naek”. Colek-colek? Emang aku sambel bang?!.
“kamu, bulan puasa kok su’udzan?!”.
“bukannya gitu Ai, aku khawatir, gimana sih!?”.
“iyah, aku berangkat sama Agus, yah? Entar pulangnnya bareng Cindy, OK?”. Agus kan lagi mudik?!, aku terpaksa boong. Lagi.
“nah, kalau gitu, baru aku tenang, kamu ntar disana makan yang banyak ya? abis acara selese kamu harus langsung pulang, OK?”.
“yee, kamu! Paling aku Cuma karaoke-an bentaran abisnya, OK HONEY?”.
“hmm, pakai jeket ya? Dingin loh!? Eh kamu buka puasa dimana Ai, tuh kan! Aku hampir aja lupa nanya!?”. Aduh nak!, jangan sampe dah ketularan penyakit pikun aku.
“uhm, di Steak House, yang deket tempat les aku dulu”.
“ohhh,  yaudah, happy break fast Ai!”.
“iya, makasih ya? Bye? Assalamualaikum!”.
“hati-hati ya? Inget kalau ada yang nawarin makanan atau natap mata kamu jangan mau, OK?bye Ai, walaikumsalam!”.
“hmm, mulai lagi deh! Aku Cuma naik angkot dua kali tahu?”.
“iah, tapi kan, tetep aja, aku khawatir tahu!, pokoknya kamu hati-hati ya? Entar kalau aku gak jadi pulang ke Bogor, aku jemput kamu, OK?”.
“hmm, Ok!”. Clek! Telepon ditutup. Aku sangat mengerti mengapa Ludwig se-khawatir itu padaku, memang, awalnya, aku merasa jijik, melihat perlakuan Ludwig yang sangat over-protective terhadapku yang notabene-nya hanya sebagai pacar, padahal orang tuaku saja tidak terlalu mengiharaukan soal aku. Tapi, Marsya bilang, ke-khawatiran Ludwig yang berlebihan itu merupakan bentuk perasaan sayang Ludwig padaku, Ludwig memang sama sekali tidak mengkekang ku—seperti apa yang dilakukan oleh cowok lain kepada ceweknya, biasanya sih mereka ngekang cewek buat ngelakuin apa yang mereka suka, begitu kata teman-temanku, soalnya pacar mereka begitu sih, ampe online aja dilarang!—tapi dibalik itu, dia sering meng-khawatirkanku  secara berlebihan, buktinya, ke tukang fotocopy-an saja—yang jaraknya Cuma beberapa ratus meter dari rumah—kudu diantar, kalau enggak, Ludwig bakal ngambek—bukan marah tapi ngambek, tau enggak perbedaannya? Kalau marah, hal yang terjadi pada orang dewasa, biasanya mereka pas marah suka teriak-teriak, dan bentak-bentak enggak jelas, nah! Kalau ngambek tuh marahnya anak kecil, biasanya yang mereka lakukan tuh, diem, cemberut, ditanya ini-itu enggak ngejawab, terus finalnya nangis deh!. Makanya, kemanapun aku pergi pasti Ludwig ada dibelakangku, makanya Ludwig punya julukan bodyguard-nya Alina, hehe, banyak juga yang bilang, babu-nya Alina, tapi aku sih paling seneng bilang Ludwig sponsor, abisnya setiap kita jalan, pasti dia yang bayarin. Semakin lama, aku jadi semakin terbiasa dengan sikap menjengkelkan Ludwig, tapi sekarang, aku jadi tahu, kalau dia bener-bener pengen jagain aku, nah, khawatir itu datang ketika dia enggak bisa ada buat jagain aku, makanya dia ngewanti-wanti seheboh itu, yayaya, Marsya benar, itu bentuk sayang dia sama aku. Semua ke-khawatiran Ludwig enggak terbukti, aku naik angkot dengan lancar, dan sampai tujuan dengan selamat, dan akhirnya waktu buka puasa tiba, senang sekali rasanya dapat melihat dan merasakan suasana bak pasar saat buka puasa dengan teman-teman SMP, yah meskipun cara makan kami agak brutal dan mampu merangsang orang yang melihat untuk muntah, tapi justru suasana ini yang aku rindukan. Sudah biasa bagi kami untuk makan sambil ngobrol, ngelawak dan ketawa. Keren. Jam 7 kami sudah selsai makan (cepatkan? Maklum, barbar[2])dan sekarang dalam perjalanan ke tempat karaoke, tapi baru 1 jambiasanya kami menghabiskan waktu berjam-jam ditempat karaokesemuanya memutuskan untuk pulang, sebagian teman-temanku menolak untuk mensudahi kegilaan ini, tapi ada banyak alasan melontar “kan mau taraweh tau?!” kata Yudha, belum lagi kata Fakhri “hei! Gue udah di sms ni, suruh jadi imam taraweh” apa? ya ampun, udah pada enggak beres ni dunia. Akhirnya jam setengah delapan-pun kami sudah saling berpamitan, tapi ada yang menahanku pulang. Cindy.
“Lin, temenin gue cari kado buat sepupu gue yak? Mau yak?”. Pinta Cindy dengan gaya ala Puss in Boot-nya Shrek. Sangat memohon. Hem? Bagaimana ya? Ah! Temenin sajalah, sekalian aku cari sepatu bagus buat lebaran, hehehe.
“ok, ampe jam brapa? Gue enggak dibayar perjam loh?”. Cindy tertawa mendengar banyolan lama-ku.
“jadi? Perhari gituh? Ampe nyokap-bokap gue jemput aja”. Jawab Cindy ikutan ngelawak juga.
“jiaah, kejam banget sih lu perhari, emang gue pembokat apa? Dibayar perhari?!”. Kami berdua jadi tertawa.
“udah ah, yang penting sekarang lu bantuin gue nyari sepatu yang pas buat sepupu gue, anaknya kelas 6 SD, pilihan ya sama lo? Selera lo kan lumayan”. Pinta Cindy, hmm tau aja? Tapi?  Apa tadi? LUMAYAN? HAHH? KAGAK SALAH TUH? Gaya gue udah kayak Lady Gaga jadi mualaf aja lo bilang lumayan, dasar!.
“iya, iya, gue pilihin”. Akhirnya gue bantuin pilihin sepatu buat sepupunya Cindy, eh tapi? Ternyata dia enggak hanya pilihin buat sepupunya aja, dia sendiri ikut nanya-nanya “bagus gak Lin yang ini buat gue” tanyanya sambil mengarahkan telunjuknya ke arah kakinya. Yahh! Sama deh gue juga bakal ikut-ikutan heboh milihin sepatu seakan lebaran 2 jam lagi dari sekarang, hahah! Hiperbolis gue.
“Lin, nyokap gue kayaknya udah nyampe”.
“Hah? Mana, kagak keliatan?”. Jawabku sambil celingak-celingukan.
“tuh liat, buntutnya”. Oh, i see, i see, ternyata adik Cindy udah keliatan nyamperin dia. haha!.
“Lin, entar baliknya barengan gue yak?”. Ehm, sebenarnya itu merupakan rencana awal-ku Cindy! Niat ku sejak awal memang mau nebeng sama kamu. Hihi. Tapi?.
“bu yang ini bagus gak? Alina nih yang milihin”. Tanya Cindy pada??..oh ada ibunya Cindy toh!, salam dulu ah!. Wah, ternyata dibelakang ibu-nya Cindy ada ayahnya, ada neneknya, ada Om-nya, dan? Ya ampun? Gue harus ikut? Masa sih? Gue yakin mobil pasti penuh, dan (sorry nih Ndy!) sesak dan sempit, ya, gue sih emang kecil, tapi kan yang laennya?. Oh my God!. Gimana dong?.
“Lin, mau kemana? Entar gue bayar dulu, bentar lagi ya?”. Tegur Cindy, ketika melihat aku diam-diam ke pojokan, padahal niat mau telepon Ludwig. Aku jadi berpikir dua kali untuk tawaran gratis itu. lumayan kan kalau aku enggak bayar ongkos angkot sekali?. Tapi, kayaknya aku emang kudu ngerubah rencana awal. Rencana A gagal dengan sukses. Kayaknya aku udah cukup sering nebeng Cindy dulu pas SMP, jangan lagi deh Lin, malu-malu-in banget kan kalau mesti kudu nebeng?. Dan sepertinya, aku kudu buru-buru banting setir ke rencana B, apa itu rencana B? Ya pastinya telepon orang rumah dan..Ludwig!.
“Ndy, gue....gue kagak jadi ya pulang bareng lo?”. Pinta gue sama Cindy yang lagi matut-matut sepatu, katanya tinggal bayar doang?!.
“loh, kenapa? Nah terus!? Lo pulang sama siapa?”.
“ahh, gue ada perlu dulu ke SM, ntar gue balik sama temen”.
“yee, beneran nih?”.
“iya, gue ada perlu dulu soalnya, ok?!”. Cindy terlihat mikir-mikir dulu.
“ya udah deh, lo hati-hati ya?”. Alhamdullilah!!.
“ok Ndy! Tante, pulang duluan ya?”. Mama Cindy tersenyum dari jauh sambil menggendong adiknya Cindy yang...ya Ampun! Tambah gede aja!. Ok! setelah ini, aku langsung bergergas lari keluar Departement Store itu, terus nelpon Ludwig.
“hallo? Yang?”.
“ya? Kenapa Ai?”.
“kamu jemput aku ya? Sekarang? aku gak ada temen pulang nih? Aku tunggu ditempat biasa yah? Ok? kamu jangan..”. AHH! SIAL! Ponselku mendadak mati, kena serangan jantung kali yah? Eh! Ternyata bukan, battere abis, sangat abis, dan usahaku berkali-kali menyalakannya kembali gagal. Ternyata aku lupa battere abis dan enggak sadar kalau dia udah koma sejak tadi. Yahh?!. Untung aku udah kasih tau Ludwig buat jemput ditempat biasa. Yah tempat biasa kita makan dan kencan, yaitu tempat makan siap saji di bagian bawah S-Mall. Yayaya, tinggal tunggu aja deh!.
20.45, aku sampei ke A&W, tempat janjian a.k.a ‘tempat biasa’.
20.55, aku masih nunggu. Mana ya tu si my lovely kribo. Kembali celingak-celinguk, jangan-jangan dia juga lagi nyariin aku?.
21.15, masih juga nunggu, hmmm, mana sih tu bocah!! Emang enak ya nunggu? HAH?!. Gila! capek, ngantuk, pengen pipis, takut banget pas pipis eh si Ludwig nya ada. Aduhhh!!. Kamu tuh kemana sih?.
21.30, mencoba ikut sms ke pengunjung yang lain. “mas, boleh ikut sms sekali enggak? Ponselku mati nih” “oh boleh, boleh dik” YES!!. Sms Ludwig langsung, “eh kribo! Kemana lu? Gue udah kadaluarsa tau nungguin lu!”.
21.45, Ya Ampun. Ludwig belum juga nongol, dasar dia! pasti dia kira telepon dari aku tadi Cuma mimpi yang kayak kenyataan doang, terus? Ya dia tidur lagi pas abis terima telepon. Buktinya sekarang sms yang aku kirim enggak dibalas juga. ‘si pengunjung yang lain’ juga udah pergi. Apa ada yang ngegondol tower sinyal apa?!. DASAR! UDAH MAU JAM 10 TAUU KRIBOO!!!.
22.00, jam 10 malam tepat, aku ditegur oleh pelayan di A&W, “dek, kita sudah mau tutup” katanya, aduh? Gimana dong?. Akhirnya, aku terpaksa menunggu didepan Mall. Kemana ya si kribo itu?
22.23, jelas-jelas aku kasih tau dia! di tempat biasa, di tempat biasa! Dia denger enggak sih?! Budek kali ya tu orang?!. Ahhh!. Aku udah enggak peduli apapun, yang jelas, aku sekarang pengen pipis, pengen ganti baju, terus tidur yang kenyang ampe waktu sahur, eh tapi? Aku harus bangun jam 3, terus sekarang?! jam setengah 11 aja aku belum pulang! ARHHSS!. Ya udah deh, pulang duluan, HAH?! Pulang duluan? Aku ngerasa kayak nungguin minyak damai ama air, mustahil!. Yak waktunya pulang!. Aku melangkah cepat(lari kali ye?) ke luar Mall, dan...Ya Ampun! Kok aku mesti lupa seh kalau jam segini udah jarang angkot!?. Oh My Gosh, entah apa yang harus aku lakukan sama si kribo itu kalau kita ketemu nanti?. Mutilasi? Hm! Kayaknya enggak ngefek, kan lebih asyik kalau bikin mati secara perlahan-lahan, gimana kalau mutilasi si Cadburry-nya(itu nama kucing BirmanCat-nya Ludwig dan dia jantan) atau si-Presscie-nya Ludwig(nah kalau ini piano pertamanya Ludwig, dia sayang banget sama ni benda, tapi dia selalu bilang kalau dia lebih sayang gue daripada ni benda, what?! Suruh jemput aja kagak becus!), paling enggak dia bakal sedikit sekarat karenanya, atau?? PUTUS AJA!?. Yah sepertinya lebih baik begitu, mana bisa aku pacaran sama cowok yang enggak khawatir sama ceweknya yang malem-malem gini masih ada diluar? Eh? Kok tumben ya Ludwig enggak khawatir sama aku? Padahal tadi sore penyakit over protectivenya kumat?. Apa jangan-jangan? Sikap Ludwig tadi yang gak rewel ngeliat aku ngebiarin hari jadian kita itu artinya Ludwig enggak peduli lagi sama aku? Dia udah gak sayang lagi kayaknya ya ama aku? Apa? Sekarang dia lagi jalan sama cewek lain terus jalan dilanjutin ampe...? ENGGAK!. Enggak salah lagi. Akhirnya, dengan sangat terpaksa, aku jalan ke pasarbiasanya jam segini banyak angkot disanasambil ngerutuki dan mikirin cara yang tepat, hemat dan tentu saja! Cepat melenyapkan si rambut cacing itu!. Jalan dan terus jalan, tapi, aku tahu, disetiap pijakan kaki-ku di jalan becek ala pasar(agak bau terus keruh banget lumpurnya), ada langkah kaki yang mengikuti, seakan banyanganku, dia mengikutiku terus, apa dia malaikat yang katanya selalu ada disamping kita?, aku mempercepat langkah-ku, terus, terus, hingga lari, dan gila-nya, si langkah kaki itu juga ikut lari mengikutiku dan akhirnya aku sadar, setelah melihat kebelakang, ternyata dia bukan malaikat pelindung, tapi...
“hayo? Mau kemana?!”. Ujarnya sambil tersenyum licik, ternyata dia..entah siapa, tapi yang ku khawatirkan dan TAKUTKAN, dia laki-laki, sudah dewasa, tampang berewokan menyeramkan, pakai jeket lusuh dan sekarang dia menerkamku. Aku mencoba menghindar darinya dengan terus berlari ke arah depan, kenapa hari ini pasar sepi?, dia terus mengejarku hingga, dia menarik lenganku.
“mau kemana sayang? Sini main dulu sama oom?”. Ajaknya paksa dan...menjijikan! lebih menjijikan dari muntahan Cadburry minggu lalu(tapi masih setingkat kejijianku sama sifat Ludwig malam ini). Aku berteriak, meminta tolong dan mencoba meronta dari pegangannya yang keras dan bertenaga. Dia membuka jeketnya dan menutupkannya ke mulut ku.
“sssttt, kalau main sama oom, jangan berisik ya?”. Ujarnya lagi, dia menarikku secara paksa dan dengan satu tarikkan, aku terjembab ke arah tubuhnya, aku masih mencoba meronta dan terus meronta, hingga tidak terasa aku menangis. Dia memelukku, tidak seperti Ludwig, tapi seperti pyhton yang melumpuhkan mangsanya, badanku seketika lemas, tulang-tulangku seketika menjadi karet, dan aku hanya menagis saat dibawanya, entah kemana, dan entah untuk apa. Jadi? Kayak gini ya akhir idup seorang seniman macam aku?. Sepertinya aku dihipnotis oleh orang dewasa-bereweokan-menyeramkan itu, buktinya, aku sekarang jadi terserang semacam penyakit lumpuh layu. Dia memposisikanku dalam posisi tidur, dia mengelus-ngelus kepalaku, dan sebagian dari pahaku, tapi, bagai boneka, aku sama sekali tidak melawan, aku sama sekali tidak bisa bergerak, dan pandanganku mulai kabur. Dan kini, Gelap.
Tarian peri awan membuatku serasa mengayun-ngayun ditengah pelangi, dan merasakan bekas-bekas embun hujan, yang jatuh perlahan dari sebuah daun jendela surga. Peri-peri keemasan muncul, tangannya menggandeng jari-jariku, menuntunku ke sebuah gerbang emas, bersemu pink dan berlantaikan awan. Brukk!! Tiba-tiba aku terjatuh, entah kemana, yang pasti bukan ke lengkungan pelangi, tapi yang pasti, aku sedang berbaring, mataku makin terbuka, meski penglihatanku buram, tapi aku sudah bisa merasakan, ada rasa hangat ditangaku, dan itu juga yang mendorongku untuk terus membukakan mataku, mengetahui apa yang membuat tanganku begitu nyaman, kehangatan ini begitu lembut, seperti...
“Ai?!”.
“Ludwig! Jangan berisik!”.
“tapi dia, tadi Alina gerak mam! Dia kayaknya bakal bangun deh!”. Suara Ludwig?, Ludwig juga sekarang ada disurga?. Ah?.
“tuh kan mam! Alina bangun!”. Dimana aku?, aha!? Sebuah kamar, kok bisa? Ya ampun!.
“Ai? Kamu bangun? Panggil dokter mam! Alina udah siuman!!”.
Aku kira, aku sudah mati. Aku ingat betul sekarang, malam itu, aku yang sedang jalan dipasarsambil merutuki sikap Ludwigmenuju tempat mangkal angkot, diikuti dan hampir di’apa-apa-in’ oleh pria-berewokan-menyeramkan itu(yang awalnya aku kira dia malaikat pelindung), setelah dia membekap mulutku, tubuhku lemas, lumpuh layuh, dan sekarang aku sudah baikkan, dan sudah ada ditempat yang baikkan, rumah sakit.  Ternyata, aku diberi obat bius oleh pria-berewokan-menyeramkan itu, dan kenapa aku ada disini setelah dia membiusku?. Yayaya, mana mungkin si pria-menyeramkan-berewokan itu berbaik hati mengantarkan ku pulang setelah meng-apa-apa-kan-ku, jadi?, setelah semuanya gelap bagiku, Ludwig datang, ternyata, dia kira aku menyuruhnya menjemput di Steak House, tempat aku dan teman-teman buka puasa, dia juga sama, menunggu lama, hingga akhirnya dia memutuskan untuk mencariku ke tempat lain, hingga akhirnya Ludwig ketemu Cindy, dan dia bilang aku ke SM, Ludwig ingat tempat ‘biasa’ itu, dan akhirnya dia pergi kesana, dan menemukan keterangan dari seorang pelayan disana kalau aku jalan ke arah pasar, akhirnya Ludwig juga kesana, dan entah mengapa, Ludwig menemukan tas selempang coklatku, plus akunya, dia menemukanku tengah di...entah diapakan, Ludwig tidak mau menyebutkan, yang pasti dia bilang aku enggak apa-apa. Ludwig bilang, kalau ia geram, dan emosi, dan langsung saja menghajar si pria-berewokan-menyeramkan itu, dan dia membawaku ke rumah sakit, karena waktu itu wajahku pucat sekali, dan makanya juga aku disini, cerita itu makin nyata, setelah Mami Ludwig memperlihatkan luka di tangan Ludwig, yang masih belum kering, masih ada darah di kain kassa-nya. Kayaknya aku harus narik kata-kata kutukan aku sama Ludwig waktu itu, juga rencana mutilasi dan..putusin dia. Sendainya Ludwig emang enggak sayang sama aku, dia bakal ngelakuin hal yang sama kayak aku, marah-marah, pulang sambil ngerutuki atau ngerencanain pembunuhan sama aku, atau? Dia juga pasti pengen putus, tapi ini? Ludwig malah bela-belain nyariin aku, untung ketemu sama Cindy. Dan dia menyelamatkanku tepat pada waktunya. Entah apa yang terjadi kalau Ludwig enggak nemuin aku waktu itu, mungkin sekarang sepupu-sepupuku lagi asyik bagi-bagi ‘warisan’(barang-barang dikamar gue).
“aku bener-bener bersyukur banget Ai, bisa sampai tepat waktu ke tempat kamu, maafin aku ya?”. APA? Maafin kamu?.
“aku yang harusnya minta maaf tau! Aku yang salah”. Kataku sambil mengingat-ngingat kutukan yang aku limpahkan pada Ludwig.”kamu seharusnya tahu, aku tuh udah su’udzan[3] sama kamu, udah ngira yang enggak-enggak tentang kamu, udah ngutuk-ngutuk kamu, udah niat mau putusin kamu...”. air mataku enggak bisa dikompromiin. Yah! Aku menangis, dan jari-jari Ludwig yang mengelapnya. “aku udah jahat tahu sama kamu tahu! Malu banget sekarang aku selamat karna kamu!”. Mulai deh, Ludwig masang tampang lucu, polos nan bloon-nya, uhh berasa ketemu puss in boot nih!.
“enggak apa-apa kok, aku tahu banget kamu pasti bete nunggu lama-lama, lagipula, kalau aku denger baik-baik kata-kata kamu ditelepon, mungkin gak akan kayak gini”. Yah Cuma begitu doang jawabnya?. Dasar Ludwig. Kalau orang biasa sih bisa-bisa aku kena semprot, dimarah-marahin, tapi Ludwig?, dia emang super, super baik, super sabar. Beruntung banget aku punya dia. Kejadian ini bikin gue sadar, ternyata emang gak baik su’udzan sama orang, meskipun kita udah tahu yang sebenarnya. Aku janji enggak akan su’udzan-an sama orang lagi!, lagipula ber-negative-thinking-an sama orang tuh bikin capek, buktinya, aku ke Ludwig waktu itu, bener-bener bikin capek, ya capek hati lah, capek mulut lah(ngutukin dia mulu), capek pikiran lah(mikirin kutukan yang pas buat dia), dan yang pasti semua ke-capek-an-ku itu menguras energi, dah akhirnya? Energi itu kebuang sia-sia. Enggak bakal deh lagi-lagi. Hahaha, Allah SWT emang paling jago bikin skenario terus nyelipin pelajaran berharga buat hamba-Nya. Dan sekarang? lewat kejadian aneh nan menyeramkan itu aku dapet pelajaran baru. Hihihi. Inget kejadian itu bikin aku ngakak dalem hati, ternyata aku goblok banget ya?. Malu-maluin. Sangat.















[1] Panggilan sayang Ludwig sama aku, dari bahasa jepang katanya, artinya cinta.
[2] liar
[3] Bahasa Arab, artinya berprasangka buruk.

Senin, 20 September 2010

Lebaran dimana-mana.....!!


selamat hari raya Idul Fitri ya semua?. moga-moga puasa kita diterima sama Allah SWT. haha. sebelumnya gue mau minta maaf dulu, pasti orang-orang kalau baca postingan gue bakal ilfeel se-ilfeel ilfeelnya sama gue, please deh! hari gini baru ngucapin selamat lebaran! selamat lebaran!. hahaha. emang bener, tapi lebih baik terlambat daripada enggak sama sekali. maklum, scara gue pelajar yang baik dan benar, jadi waktu-waktu gue selalu abis sama belajar, ngerjain tugas, kumpul organisasi, dan main. so? enggak ada waktu tidur. apalagi buat tidur siang. nah, berhubung libur, jadi gue habisin aja buat main, ngumpul, dan TIDUR!. yea! i love sleep. oh ya, dipostingan kali ini, uge gak hanya menyajikan ucapan selamat buat kalian semua para pembaca blog ku(emang siape coba ya yg mau baca blog bulukan gue?), gue juga bakal ngenyajiin suasana lebaran dari beberapa kota diluar indonesia. langsung? OK!.

1.Singapura, Geylang Serai.
di singapor, pusat kemeriahan ramadhan dan lebaran ada di Geylang serai, kenapa haru di geylang serai? kenapa enggak di marina bay? pulau hantu? orchard road? bukit timah? serangoon? atau malah chinatown?. ehm, gue juga cuma taunya karena pusat kampung melayu itu ada di geylang serai, so? karena penduduk disitu mayoritas islamnya lebih banyak dari pada ditempat lain, makanya suasana ramadhan dan lebaran lebih kerasa di sini.
suasana aidilfitri light up di geylang serai photo by Keropokman.blogspot.com
 makanan khas lebaran disini juga ketupat loh? ada rendang juga, tapi kalau disini itu makannya bukan pake opor ayam, tapi pakei sayur lodeh, dan kue-kue lebarannya juga sama, ada nastar, dan lain-lainlah. selama bulan puasa, digeylang serai juga diadakan bazaar ramadhan. isi bazaar ini macam-macam, mulai dari makanan buka puasa, baju lebaran, sandal, sepatu, hingga hiasan rumah.

menurut temanku yang bermukim disana, lebaran atau aidil fitri disana cukup ramai, apalagi dengan adanya bazaar ramadhan, ketupat plus teman-temannya(rendang, gulai dan lain-lain) juga tersedia disana. kue(h)-kue(h) ramadhan juga banyak dijual, perlengkapan shalat dan baju dulag(baju lebaran) juga banyak disana. pokoknya enggak kalah meriah deh sama dinegeri kita.

2. United Kingdom
Kita masuk ke tahap yang sedang, dimana Islam belum semeriah di SG. di Inggris, menurut berhubung masyarakat muslimnya perbandingannya sedikit dengan jumlah penduduk UK, makanya enggak terlalu terasa ramai.
berikut suasana shalat Jum'at di East London Mosque, SubhanAllah ya? mesjidnya penuh banget, ame ke pintu-pintu. untuk hari lebaran, di Inggris, tidak disediakan ketupat, atau rendang apalagi opor ayam seperti yang masih kita bisa temui disingapor sana, tapi, masyarakat disini menikmati samosa, samosa itu kalau dikita mungkin, disebut pastel, yup! samosa adalah daging atau sayuran yang dibungkus kulit lumpia lalu digoreng hingga kering, terus dimakan sama saus. samosa itu gampang banget loh bikinnya!(yeee sombong). ingetin aku yah buat ngepost resepnya ala aku?.
3. Amerika Serikat
disana, lebaran memang tak sehangat di Indonesia, kenapa? mungkin karena pemeluk agama Islam masih sedikit, terus hari lebaran juga enggak ditetapkan sebagai libur nasional. bahkan kapan mulai dan berakhirnya puasa pun enggak diumumkan disana, kapan waktu berbuka dan kapan imsak pun enggak ada ditv-tv atau koran. biasanya mereka tahu yang kayak gitu dari email atau website. untung makanan, opor ayam beserta lontong atau ketupatnya ada, tapi biasanya jarang tiap rumah masak sendiri, mereka pesen ke katering atau makan yang udah disediain di gathering. untuk kue-kuenya juga mulai dari nastar hingga kastengel ada, tapi agak susah nyarinya, kalopon ketemu, yang jual juga orang indonesia juga. untuk shalat id. mereka biasanya shalat disuatu tempat(bukan lapangan), dan biasanya umat muslim(yang umumnya masyarakat indo) dari berbagai negarabagian datang ketampat itu untuk shalat id sama-sama, jadi salat idnya gak buka cabang dimana-mana kayak di indo. hehe. 

4. Jepang
di Jepang, tampaknya Lebaran bukan acara yang asing-asing amat buat para masyarakatnya(yang non muslim gitu). hilal disana sudah ada yang menentukan, yaitu Ruet e Hilal Committee of Japan (Komite Ru’yat Hilal Jepang), dan katanya, kalau hilal gak kliatin juga, mereka ngikutin malaysia(entah kenapa kudu malaysia, mungkin negara muslim terbanyak yang terdekat). untuk makanan, sepertinya(lagi-lagi) susah buat nemu ketupat+opor ayam+teman-teman pelengkapnya. tapi kata sumberku, lontong sih ada. dan lagi-lagi kebanyakan masyarakat muslim disana nemu begituaan di sejenis 'lebaran party' atau gathering kali ya?. tapi! aku nemu info di internet, kalau sekarang dijepang udah ada pengrajin bungkus ketupat. baguslah!. untuk kue-kuenya, dijepang katanya ada semacam kue kering, tapi kuenya mini, alias kecil=kecil. hehe. gambarnya? nyusul, tunggu temenku kirim yak?. hehe

terus? negara apa lagi yak?. pengennya sih dari korea, tapi berhubung orang yang kukenal disana uda tua, alias kakeknya temenku, jadi malu mo nanyanya, udah gitu pasti ngomong ngaler ngidol! jadi tunggu aja lanjutannya, tahun depan! hehe. atau request aja negara yang mau di tampilin. OK?. THANKS!

atau malah mau sharing? ditunggu ah commentnya!

Sabtu, 18 September 2010

selamat buat semuanya!!

yey! akhirnya setelah bersusah-susah puasa ditemenin asamlambungku yang over akhirnya lebaran juga. emang, aku telat banget ngucapin Selamat Hari Raya Idul Fitri buat semua orang yang baca blogku, tapi? lebih baik terlambat daripada enggak sama sekali.
tapi menurutku sekarang masih disuasana lebaran, kan liburan belum berakhir, jadi masih banyak dong yang belum halal-bi-halal? so? ramein acara halal-bi-halal kalian sama ucapan selamat lebaran dari berbagai dunia ini>>

Indonesia : Selamat Lebaran, Selamat Idul Fitri
Banjar : Salamat Bahari raya
Jawa : Sugeng Riyadin
Padang : Selamet Idul Fitri
Sunda : Wilujeng boboran siyam
Afghanistan : Kochnay Akhtar
Arab : Aid Mubarok
Bangladesh : Rojar Eid
Belanda : Eigendom Mubarak
Bosnia : Ramazanski Bajram
Bulgaria : Pritezhavani Mubarak
Chech : Vlastnictvi Mubarak
Cina : Guoyou Mubalake
Denmark : Ejet Mubarak
Finladia : Omistama Mubarakiin
Inggris : Happy Eid El Fitr
Israel : Bebe’lanat Mawba’rak
Itali : Proprieta Mubarak
Jepang : Chuuko Mubaraku
Jerman : Besitz Mubarak
Korea : Junggo mubarakeu
Kroasia : Vlasnistvu Mubarak
Kurdishtan : Cejna RemezanĂȘ
Malaysia : Salam Aidilfitri
Mesir : Ed Karim atau Eid Sahid
Nigeria : Sallah
Perancis : Fete de l’aid
Persia Iran : Eid-e-Sayed Fitr
Polandia : Wlasnosia Mubarak
Portugis : Mubarak propriedade
Rumania : Mubarak aflate in proprietatea
Rusia : Prinadlezhashchikh Mubarakj
Senegal : Korite
Spanyol : Mubarak, de propiedad
Swedia : Agda Mubarak
Turki : Ramazan Bayrami
Urdu India : Choti Eid
Yunani : Aneekoeen Moeemparak (www.wikimu.com)

aku CP ini dari blog klepon, thanks my bland deer!.
kebetulan tu anak punya banyak temen dari berbagai dunia, cicici. jadi pas lebaran dia sibuk cari-cari ucapan selamat lebaran dari berbagai dunia, alhasil, gue ketiban enaknya juga, bisa cp dari dia tanpa credit secara detail. hehe!

Rabu, 08 September 2010

fiuhh, finally!!

akhirnya, akhirnya, Alhamdullilah.

akhirnya(kok gue seneng banget ya pake tu kata?) kedua cerpen gue, berhasil juga dikirim. ini pertama kalinya gue ikut lomba menulis cerpen. pertamanya juga gue enggak tahu kalau ikutan lomba macem ini infonya bisa segitu gampang dicari dan diakses di internet. iseng browser, gue nemuin info LMCR atau lomba menulis cerpen remaja, gue benge!. temanya gampang banget masuk ke otak gue, terus tentang remaja lagi, soo? emang kerjaan gue kali nulis cerpen tentang mahluk kayak begituan, yayaya, jadi gue ikutan. pertama-nya sih agak susah, soalnya mereka kasih batas halaman, yaitu 6-10 halaman aja, alhasil gue harus mendek-mendekin cerpen-cerpen yang mau dikirm, abang gue bilang, cerpen tuh emang sekudunya 6-10 halaman doang, kalau panjang ya berati cerbung, tapi! rata-rata cerpen gue 10-16 halaman, kan tanggung banget kalau dibilang cerbung yang notabenenya berkisar antara 18-25 halaman(bener gak tuh?). tapi akhirnya gue bisa juga bikin setelah baca-baca lagi tentang cerpen, makasih banget Bang anto (lupa gue wesitenya) yang udah kasih info singkat padat dan jelas tentang cerpennya, bermanfaat banget soalnya!.


huft! akhirnya gue kirim juga tu lembaran-lembaran gila! deadlinenya sih tanggal 15 september. tapi ya, gue pengen liburan tenang, jadi? gue kirim sekarang, orang semuanya udah clear kok. agak didera rasa parno yang hiper juga sih, takut-takut ada yg lupa kemasukin. dan lalu, gue kagak berharap banyak soal ni lomba, asal gue ikut, itu udah merupakan pengalam yg bagus buat gue kedepannya, kalau menang? ya bagus lah! itu bisa bikin gue mikir lebih lanjut, ternyata pikiran gila gue dianggep juga yey?!. hehe.

doakan saya ya?.

LOL.

lagi-lagi lupa mau dokumentasiin.

lagi males banget nulis, pengen main game!.

Kamis, 02 September 2010

20 Website berlayout unik

desain layout website adalah salah satu penarik para pengunjung untuk singgah apalagi kalau informasi webiste juga enggak kalah 'bagus'nya dengan desainnya, selain itu, desain website juga mencerminkan si pembuat atau si pemilik website tersebut, desain website yang unik juga bisa mendukung karir seorang desainer grafis dalam mempromosikan design home-nya. fungsi 'pentingnya memperbagus desain website' sebenarnya sangat banyak, tapi yang paling menonjol adalah yang diberi mark orange. terkadang sangat susah mencari inspirasi, apalagi jika suasana ruang kerja sangat tidak nyaman atau kotor dan panas karena radiasi yang ditimbulkan laptop atau pc. berikut 20 desain layout website yang unik yang siap mengantarkan kalian menemui inspirasi website unik dan menarik milik kalian sendiri. enjoy!

1.Popmatik  Rob Leach membuat konten dari website ini berada di label botol air, website dengan 2 kolom ini sangat simple dan sangat cocok sebagai website produk minuma ringan atau air mineral, atau produk apa saja yang pengemasannya menggunakan botol plastik. 
Popmatik 
Screenshot
Digitalmash.com – maker : Rob Morrish. jujur gue kurang kenal ama ntu orang. desainnya sih sebenarnya simple banget, dengan komposisi warna-warna kalem (black, grey dan hijau mint) tapi background-nya yang bikin desain simple ini jadi unik. patut dicoba!
Digital Mash Screenshot
Melissahie.com – hmm, untuk website ini, kalau kalin tertairk bisa view sendiri, soalnya gue sendiri belum liat, LOL. situs ini sepertinya flash, tapi enggak yakin juga, tapi welcome page-nya keren, dari kupu-kupu yang nempel di atas logo situs, keliatan banget yang punya and buatnya cewek. dan menurut gue, desain website yang menampilkan welcome page macem ini lebih menunjukan 'karakter' si maker atau si owner website. tapi bikin lama load, apalagi kalau page welcomenya flas, hhh, capek nunggu loading. 
Melissahie.com Screenshot
  Evanescenceuk.co.uk -situs milik salah satu band rock inggris ini memiliki desain yang hampir sama dengan yang melissahie.com punya, liat aja, satu page cuma dimuatin menu dan (mungkin) mini biodata. untuk jadi, untuk melihat isi website, kita bisa mengklik salah satu menu dan klik-an kita akan membawa kita ke page yang berbeda.
Evanescence
 Screenshot
Sitotis.hr - ini favorite gue nomor dua, desain yang simple dengan kombinasi warna yang juga simple, background yang juga simple dan keliatannya juga enggak perlu waktu lama buat nge-load ni website.  tapi menurut gue, keterkaitan desain sama something yang ditampilin di website ini kurang. but its still good work:D !.
Sitotis 
Screenshot
Mussatto.com.br - Mussatto menggunakan horizontal, tata letak lama yang tidak membutuhkan scrolling vertikal yang bertentangan dengan tinggi, tata letak standar.
Mussatto Screenshot
Basil Gloo - Web Developer Basil Gloo menggunakan tata letak yang menarik pada homepage-nya yang memisahkan halaman ke kiri dan kanan. Sisi kiri berisi informasi pribadinya dan sisi kanan informasi bisnisnya.
Basil Gloo
 Screenshot
Danviv.net - Situs portofolio Dan Viveiros menggunakan tata letak yang unik dan beberapa gambar kaset.
Danviv.net 
Screenshot
CraigEarl.co.uk - Fotografer Craig Earl menggunakan tata letak yang memiliki empat dan sempit gambar tinggi yang memiliki pranala ke kategori yang berbeda dari foto dalam portofolionya: sehari-hari, lanskap, band, dan orang-orang.
Craig 
Earl Screenshot
. JeremyCowart.com - situs portofolio fotografi  yang menarik, JeremyCowart.com menempatkan semua penekanan pada gambar dengan mengambil perhatian kamu pada foto dalam portofolio. Daripada membuat kamu mengklik beberapa link untuk mendapatkan foto-foto, mereka benar ada, satu di atas yang lain.  Apa yang paling unik adalah untuk mendapatkan konten apapun selain foto kamu dapat mengunjungi kontak, berita, dan link proyek.
JeremyCowart.com Screenshot
Huge perusahaan desain ini menggunakan gambar yang besar di sisi kiri situs dengan navigasi primer dan isi dalam kolom sempit di sebelah kanan.
HugeInc 
Screenshot
Interview Magazine lain tata letak horisontal, Wawancara Majalah menyajikan kesan visual yang berbeda dari majalah online lainnya.
Wawancara Majalah Screenshot
The Horizontal Way Sebagai galeri website horisontal, Jalan Horisontal secara alami menggunakan tata letak horizontal itu sendiri.
Jalan
 Horisontal Screenshot
Swiths.com  - Website ini menggunakan gambar latar belakang besar lantai kayu dan kaki orang itu. Isi dari situs ini pada secarik kertas dan notes yg tergeletak di lantai di lantai.
Swiths 
Screenshot
Davor van Eijk – wow, desain yang cukup rumit, tapi soo cool!. navigasi website juga diletakan 'fly' pas banget sama gambar yang dipinggir title. typography!
Davor van 
Eijk Screenshot
Ribbit.com - backgorund yang unik, orang yang lagi yoga tapi pake pakaian kerja yang lengkap sama laptopnya. desainnya enggak terlalu simple, karena dalam satu page (enggak pake scroll loh!) kita udah bisa menemukan navigasi sekaligus identitas produk yang ditawarkan.
Ribbit 
Screenshot

BootB - Situs ini menggunakan latar belakang hitam dan beberapa awan diambil di bagian atas halaman. Pusat halaman berisi navigasi dalam sebuah lingkaran yang merupakan bagian dari sebuah gambar balon udara panas yang akan mengapung ke awan. mungkin lingkaran navigasi itu air yang menguap ke langit kali yak?:p.

BootB 
Screenshot
Vesess - namanya bener-bener bikin gue inget sama nama biologinya kotor**. LOL. desain website yang ini juga cukup simple, tapi padat banget, semakin kalian scroll, semakin kalian menemukan apa yang kalian cari di website ini. 
Vesess 
Screenshot
Dinulovic.com - lucu banget foto bayi yang ada di website ini, dan gambar ini yang menurut gue jadi salah satu daya tarik ni website. dikedua sisinya langsung terdapat navigasi website. 
Dinulovic
StoryAbout.net - sepertinya ini merupakan situs paling simple di ini list. dengan menampilkan gambar besar bertuliskan 'life is random'(tulisannya macth banget sama desain tulisannya, acak!) dibawahnya ada link langsung ke portfolio, website yang engga ngeberatin kuota. (Vandelaydesign.com)
StoryAbout.net Screenshot